Proud of

Proud of
Tampilkan postingan dengan label Tuberkulosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuberkulosis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

Kolaborasi dan Integrasi Masyarakat dalam Pengendalian TB

"Together build a better health", itulah tajuk yang menjelma harapan segenap peserta dalam Nusantara Health Collaborative 2014 pada tanggal 7 - 8 Juni, di RIK UI, Depok. Pada saat itu yang menjadi studi kasus adalah masalah penyakit diabetes mellitus yang makin ke mari memang mengkhawatirkan, khususnya di kawasan urban, Depok. Prinsip-prinsip dari perlunya kolaborasi antar profesi kesehatan, menurutku juga sangat penting dalam pengendalian Tuberkulosis, tidak hanya diabetes mellitus. Mengingat, sebagai penyakit yang walaupun dapat disembuhkan, dikarenakan himpitan ekonomi serta ketidaktahuan dan ketidakpedulian, mengakibatkan TB menjadi momok yang sangat membahayakan bagi tingkat kematian dalam suatu negara. Belum lagi, beban yang akan diderita akibat merebaknya TB sangatlah besar dan kompleks, tidaknya hanya si penderita, tetapi juga negara, bahkan kita dapat pula terkena dampaknya, karena sifat dari penyakit yang satu ini memang menular.

Oleh karena itu, diperlukan peran seluruh ahli kesehatan, ataupun tenaga kesehatan, termasuk ranah yang aku geluti yakni ilmu gizi, ahli gizi jelas-jelas memiliki tanggungjawab moral, agar dapat mensukseskan program makanan yang bersifat HAB3 alias halal, aman, beragam, bergizi, dan berimbang. Untuk apa? Agar tercipta daya tahan atau imunitas yang prima. Bagaimana pun, pertahanan kesehatan yang paling utama bukanlah dari obat-obatan ataupun terapi, tetapi dari dalam tubuh sendiri. Tentu ini dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan diri kita agar tidak mudah terserang penyakit. Sebagaimana ada peribahasa, mencegah itu selalu lebih baik daripada mengobati, sekalipun obat TB itu kini memang sudah gratis!

Lalu menurutku, integrasi seluruh elemen masyarakat dalam pengendalian TB itu sangatlah penting, dalam hal ini, seluruh tenaga kesehatan termasuk dokter pun haruslah ikut andil dalam upaya pengendalian, misalnya dalam satuan terkecil layanan kesehatan masyarakat, sebaiknya dilakukan penyuluhan rutin dengan bekerjasama dengan pihak terkait, baik RT, RW, maupun kelurahan. Posyandu ataupun PKK, memiliki peran yang sentral, jika berintegrasi dengan institusi-intitusi pendidikan anak usia dini ataupun sekolah, agar anak-anak juga tahu tentang jenis-jenis penyakit serta bagaimana cara menghindarinya, belum lagi, biasanya kan anak-anak itu suka diantar oleh ibu-ibunya, secara tidak langsung mereka pun akan tersuluh.

Tentu saja, tidak hanya sebatas sosialisasi ataupun penyuluhan yang sifatnya mendidik, tetapi perlu juga kaderisasi masyarakat sekitar untuk menjadi tenaga pencari dan pengawas penderita TB, untuk selanjutnya membantu mereka dalam proses penyembuhan, termasuk juga memberikan semangat hidup, bahwa sakitnya akan sembuh, kalau segera dan teratur minum obat yang telah ditentukan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten.

Dan tentu saja, keluarga sebagai satuan terkecil masyarakt, haruslah memperhatikan betul kesehatan keluarganya, dengan mengikuti program HAB3 seperti yang kumaksudkan di atas, lalu juga GHBSB atau gerakan hidup bebas serangga berbahaya, memperhatikan kebersihan lingkungan, jangan sampai menjadi sumber penyakit di mana memang tidak hanya TB yang menghantui kita, tetapi masih banyak penyakit lainnya. Namun, dalam hal ini, pengendalian TB butuh peran yang lebih besar oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya pemerintah. Tentunya, dengan berprinsip bahwa lingkungan sekitar adalah kita, maka otomatis kita semua memiliki rasa yang saling keterkaitan, untuk itu berusaha bersama agar semua dapat sehat senantiasa. []

Rabu, 09 April 2014

Obat TB Gratis, Selamatkan Pasien Tuberkulosis

fix dose combination  pic from puskesmassungkai.files.wordpress.com
Sehat adalah kekayaan hidup. Dan kekayaaan yang utama adalah memang kesehatan. Saat sehatlah kita bisa kuat dalam berbagi kepada sesama, termasuk juga berusaha untuk menjadi agen penyelamat agar orang yang sakit juga segera sehat. Namun, sifat dasar dari tubuh memanglah rapuh, sehingga tidak jarang kalau lalai sedikit saja bisa terserang aneka penyakit. Meski begitu, kalau ada niat berobat yang sungguh-sungguh pasti sembuh. Ada pepatah, kalau setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Nah, begitu juga dengan yang namanya Tuberkulosis atau dikenal juga dengan istilah TB. Kalau obatnya saja sudah gratis, nggak ada alasan lagi untuk menunda sembuh dari Tuberkulosis!

Saat kita sudah mengenali aneka gejala dari Tuberkulosis, bila tanda-tanda itu ada pada diri kita maka seyogyanya kita harus segera memeriksakan diri ke puskesmas dan atau rumah sakit pemerintah yang ada di daerah kita, untuk diperiksa lebih lanjut apakah kita terjangkit TB ataukah tidak, sama halnya juga bila gejala itu kita lihat ada pada anggota keluarga atau tetangga di mana kita berada baiknya kita menyarankan agar mereka yang tampak tanda-tanda itu untuk memeriksakan diri, kalau perlu diantarkan oleh kita ke puskesmasnya. Minimalnya, kalau batuk berdahak lebih dari dua minggu, sebaiknya nggak usah mikir dua kali, periksakan diri segera, karena bisa jadi ada latent TB dalam tubuh kita yang ternyata sudah jadi aktif, bila dibiarkan atau lambat pengobatannya, TB itu bisa fatal akibatnya.

Bila kemudian setelah diperiksa ternyata pihak jasa penyedia kesehatan menyatakan vonis terjangkit Tuberkulosis, nggak usah khawatir, karena otomatis kita akan dikasih resep paket obat gratis! Biasanya Obat TB yang diberikan ke pasien, sebagian besar dalam bentuk tablet kombinasi  atau paket  fix dose combination (FDC).  Jangka waktu pengobatan biasanya makan waktu selama 6 (enam) bulan. Dan pasien harus mengkonsumsi obatnya itu setiap hari, nggak boleh putus-putus. (Pasti akan timbul rasa bosan, ya? Tetapi di sinilah peran pengawas makan obat berperan penting, siapa mereka? Ya kita-kita yang sehat yang ada di sekitar pasien. Kita harus meyakinkan dan mengingatkan yang bersangkutan agar tidak lupa mengkonsumsi obatnya, dan tetap memberikan motivasi tetang sehat, agar pasien semangat makan obat!)

Cuma Obat, Nggak Ada Alternatif Lain? Dari apa yang aku baca di situs home-remedies-for-you.com sih, untuk kasus Tuberkulosis memang konsumsi obat konvensional dari puskesmas atau rumah sakit itu langkah utama dan mendasar agar terbebas dari TB. Tentu saja, terapi diet dan nutrisi tetap berperan sebagai pelengkap dan pendukung penyembuhan pasien TB. Bahkan upaya berjemur pada pagi hari adalah langkah agar terlepas dari Tuberkulosis, sebab sinar matahari yang mengaktifkan pemproduksian Vitamin D dapat meningkatkan upaya penyembuhan pasien TB (Reuters, 2012). Dan secara umum, cahaya matahari pagi khususnya memang baik bagi kesehatan.

Dalam Journal of Perianesthesia Nursing (1996) ada beberapa langkah diet bagi pasien Tuberkulosis agar yang bersangkutan bisa lebih meningkat kesehatannya, dan sebagai pendukung dan penyeimbang fungsi obat yang dikonsumsinya setiap hari selama masa pengobatannya. Di antaranya:

  • Hindari makanan alergi yang dapat memicu gejala seperti batuk
  • Konsumsi makanan yang kaya vitamin B dan besi dari jenis biji-bijian dan sayuran berdaun gelap
  • Sertakan asupan makanan berupa tomat, bluberri, dan paprika yang kaya antioksidan
  • Kurangi konsumsi daging merah
  • Hindari makanan olahan seperti roti, ataupun yang banyak mengandung pasta dan gula
  • Hindarilah junk food, dan aneka olahan yang digoreng sehingga mengandung lemak jahat, termasuk hindari makanan yang dipanggang.
  • Jika pun harus memasak dengan digoreng, pastikan menggunakan minyak yang baru dan sehat, seperti minyak zaitun
  • Banyaklah minum jus buah dan air mineral tentunya

Insya Allah, dengan diet sehat yang tepat dan obat gratis yang didapat, pasien TB akan cepat terselamatkan! Sedangkan bagi kita yang nggak terjangkit TB aktif, menjaga daya tahan tubuh atau imunitas sangatlah perlu, karena itu benteng pertahanan kita dari serangan aneka penyakit, itu bisa dimulai dengan hidup dalam lingkungan yang bersih, serta mengkonsumsi pangan yang sehat; sehingga gizi seimbang terpenuhi. Maka dari itu, yuks sama-sama kita berantas aneka penyakit termasuk Tuberkulosis, dan jangan jauhi orangnya! Justru orang sakit butuh dukungan dari mereka yang sehat! :)




Minggu, 06 April 2014

Kenali dan Lindungi Diri dari Penyakit Tuberkulosis

Februari, itulah bulan di mana aku dihadapkan pada sebuah ruangan isolasi, ruangan yang berisikan Os (orang sakit) yang mempunyai diagnosis medis Tuberkulosis atau dikenal juga dengan singkatan TB. Saat itu aku tengah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Sakit Pusat Bandung. Aku, sebagaimana dengan bidang ampu yang aku pelajari memang bertugas di bagian yang mengurusi soal gizi pasien rumah sakit. Dan masalah gizi yang pasti terkait Os dengan diagnosis Tuberkulosis memang dapat menyebabkan banyak hal seperti penurunan berat badan, kurang nafsu makan, dan pada akhirnya berdampak pada status gizi Os.

Dari PKL tersebut, mataku semakin terbuka bahwa di Indonesia masih banyak kasus Tuberkulosis dan hal tersebut harus diwaspadai. Menurut WHO (2009) Tuberkulosis menjadi penyakit menular yang paling sering mengakibatkan Os-nya meninggal dunia, pada tahun 2009 saja kasus Tuberkulosis menewaskan 1,7 juta jiwa. Hal itu tentu saja sangat mengerihkan dan sudah seharusnya kita melakukan upaya agar terbebas dari Tuberkulosis, karena pada dasarnya bila penangannya cepat serta berkesinambungan, Tuberkulosis itu dapat disembuhkan dan dicegah.

Mycobacterium tuberculosis bacteria, pic from http://emedicine.medscape.com
Tuberkulosis itu sendiri sebenarnya penyakit kuno. Hanya saja dahulu namanya bukan Tuberkulosis, misalnya pada masa Hippocrates (sekitar tahun 400-an sebelum Masehi), Tuberkulosis disebut dengan istilah "phthisis", sedangkan dalam bahasa Inggris dulu disebut dengan istilah "consumption", barulah pada tahun 1882, seorang dokter asal Jerman, bernama Robert Koch menemukan bakteri penyebabnya yang bernama Mycobacterium tuberculosis (Thomas E Herchline et al). Sejak saat itulah Tuberkulosis didefinisikan menjadi suatu penyakit yang diakibatkan oleh bakteria (Mycobacterium tuberculosis) yang menyerang fungsi paru-paru.

Berbeda dengan bakteri lainnya, terkadang seseorang yang terpapar bakteri Tuberkulosis tidak langsung mengalami tanda-tanda Tuberkulosis, yang tampak justru sehat-sehat saja, padahal kalau dilakukan test, di dalam tubuhnya ada  bakteri penyebab Tuberkulosis, kondisi tersebut dalam dunia kesehatan disebut dengan istilah Latent Tuberculosis, di mana cepat atau lambat ia bisa menjadi Tuberkulosis aktif. Meskipun begitu, latent tuberculosis sebenarnya dapat diobati, dan biasanya membutuhkan waktu 6 sampai 9 bulan untuk membunuh bakteri penyebab TB tersebut (Ingrid Koo, 2009). Sedangkan Tuberkulosis yang dapat dilihat tanda-tandanya dan dirasakan sendiri oleh si Os, kondisi itu disebut dengan Active Tuberculosis, dalam kondisi aktif tersebutlah seorang penderita bisa menularkan bakteri Tuberkulosisnya.

Dari dua kondisi tersebut, jelas nggak ada yang bagus, menurut Ingrid Koo (2009) hampir 90 % penderita TB itu awalnya karena Latent TB. Sehingga tidak jarang, Os tidak merasa berhubungan dengan mereka yang menderita TB, tetapi kemudian divonis kena TB. Maka sudah seharusnya memang, jika tingkat penderita TB di suatu negara itu meningkat, harus dilakukan langkah semacam jemput bola, agar dapat dipastikan bahwa setiap orang tidak terjangkit Latent TB, sebab hal itu dapat memicu TB di kemudian harinya. Tentu upaya membuka sarana dan prasarana (di samping sosialisasi bahaya serta vaksin TBC tentunya) pemeriksaan gratis Tuberkulosis baik TB aktif maupun pasif menjadi salah satu kunci pemutus matarantai penyebaran Tuberkulosis di suatu wilayah. Adapun yang dapat dilakukan oleh hampir setiap kita adalah tetap menjaga kondisi kesehatan agar tetap optimal, sehingga imunitas tidak menurun, sebab di saat imunitas menurunlah sering kali kita justru terkena aneka bakteria dan virus penyebab penyakit, termasuk Tuberkulosis.

Karena TB itu berbahaya, sudah selayaknya kita mengetahui tanda-tanda atau gejala dari seseorang yang terjangkit TB, di antara tanda umumnya seperti batuk-batuk, demam, kelelahan, kurang nafsu makan, penurunan berat badan, keringatan di malam hari, dan panas dingin. Dari aneka gejala tersebut, bila ada pada diri sendiri, kita sebaiknya melakukan inisiatif untuk pergi ke dokter, apalagi jika gejalanya lebih dari 3 mingguan belum pulih. Indikasi TB semakin mungkin jika terjadi batuk berdarah, nyeri dada, serta sesak napas, karena umumnya TB memang menyerang paru-paru. Selain itu, TB juga sering kali memengaruhi fungsi ginjal, otak, serta tulang belakang. Kalau kita lihat gejala tersebut pada orang lain, sudah selayaknya juga kita memberikan pengertian kepada yang bersangkutan agar mau melakukan pemerikasaan lanjutan, agar dapat dipastikan apakah terjangkit TB atau tidak berdasarkan hasil pemeriksaan medis, hal tersebut untuk meminimalisir proses penularan kalau ternyata memang yang bersangkutan terjangkit TB.

Adapun langkah yang dapat dilakukan oleh si terjangkit ialah dengan melakukan upaya perlindungan diri agar tidak terjadi penularan. Usahakan, dalam masa pengobatan untuk diam di rumah, tidak beraktivitas di luar misalnya ke kantor, sekolah dan lainnya. Perhatikan ventilasi udara, usahakan ruangannya memiliki sirkulasi udara yang baik. Tutup mulut saat menguap, bersin, batuk, dan semisalnya, hal ini dapat dilakukan dengan jalan memakai masker. Dan tentu saja, keluarga dalam hal ini harus menjadi pengingat Os agar tidak lupa minum obat serta melakukan langkah agar dirinya tidak menularkan bakteri TB. Masalah kesehatan Tuberkukosis memang menjadi tanggungjawab kita semua sebab siapa saja bisa terlutar atau bahkan menularkan, maka kita harus saling melindungi diri kita semuanya agar terhindar dari Tuberkulosis.

Tidak dipungkiri memang, pengetahuan menjadi salah satu hal yang penting, karena dari pengetahuan yang memadai, kita dapat beriniatif melakukan tindakan penyuluhan baik ditingkat keluarga maupun masyarakat, dan lagi hal itu menjadikan kita lebih waspada terhadap kesehatan sendiri sembari juga peduli dengan kesehatan orang lain. Berikut ini beberapa laman yang dapat dijadikan referensi kita untuk lebih tahu soal Tuberkulosis dan segala hal yang terkait dengannya.

Referensi