Proud of

Proud of
Tampilkan postingan dengan label Herbal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Herbal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Hidup Tanpa Dokter, Mungkinkah?

Jika ada yang bertanya seperti itu, maka jawabnya adalah sangatlah mungkin. Jika yang dimaksud dengan dokter di sini adalah dokter yang sudah terstandar metodenya, yang mana mengacu pada dunia kedokteran Barat. Maka kita, masyarakat Indonesia, sebenarnya bisa tetap hidup tanpa dokter semacam itu. Mungkin kita akan sedikit sulit karena sebelumnya pernah bersinggungan dengan dokter, tetapi orang-orang dahulu, nenek-moyang kita di pelbagai daerah dan pedalaman itu, tanpa dokter tetap hidup, walaupun kemudian mati juga, tetapi kematian mereka rata-rata wajar dan tidak sampai akibat penyakit keras atau penyakit modern. Jadi kalau mengacu kepada sejarah, kita memang perlu berterima kasih kepada IDI Solo yang mengupayakan langkah di mana itu bertujuan agar "masyarakat tahu bagaimana rasanya tanpa dokter." Hal itu mengingatkan kita pada masa lalu, yang mana memang kehidupan manusianya lebih sehat, dan jenis penyakitnya tidak kompleks pada masa modern ini.

Apakah hanya di Indonesia saja? Tidak! Dalam laporannya, WHO (2013) mengungkapkan bahwa lebih dari 50 % populasi dunia masih mengandalkan pengobatan tradisional tanpa sistem kedokteran Barat modern. Jadi hanya kurang dari separo penduduk dunia saja yang tergantung dengan dokter. Di Afrika ada 80% populasi menggantungkan pengobatan tradisional, di Cina 41 %, di India mencapai 67 %. Menurut WHO dalam Traditional Medicine Strategy 2002-2005 Pengobatan tradisional adalah keseluruhan pengetahuan, keterampilan, dan tindakan berdasarkan teori, kepercayaan, dan pengalaman indigenous yang bisa berasal dari budaya berbeda yang satu sama lain yang bisa dijelaskan atau tidak (dengan pengertian modern),digunakan untuk memelihara kesehatan, mencegah, mendiagnosis, memperbaiki atau menyembuhkan sakit fisik atau mental. 

Bahkan menariknya, kini  di negera maju pun masyarakat mereka tidak semua menggantungkan pada pengobatan kedokteran Barat. Masyarakat tersebut juga mengadopsi metode tradisional. Tercatat setidaknya di Australia 48 %,  Amerika Serikat 42 %,  di Belgia 38 %, serta Prancis 75 % (WHO, 2003). Di tengah perkembangan dunia kedokteran yang pesat diiringi dengan teknologi canggihnya, industri farmasi kimiawi pun meningkat, namun tidak sedikit kemudian dokter-dokter yang beralih ke metode tradisional dan obat-obatan herbal. Karena pada dasarnya makanan adalah juga obat. Selama kebutuhan gizi seimbang terpenuhi, olahraga yang teratur, lingkungan yang bersih, pikiran dan hati yang tenang, Insya Allah, hidup sehat tanpa dokter akan dapat tercapai. Lagi pula, aku pun pernah baca buku, "jangan buru-buru ke dokter!"

Maka kalau kita berkaca kepada masa lalu, tidak hanya sekadar tanpa dokter, suatu komunitas tetap bisa hidup tanpa perawat, apoteker, maupun bidan. Semua profesi tersebut memiliki peran dan fungsi formal dan primer karena dinyatakan dalam undang-undang kesehatan RI saja. Jika tidak, profesi tersebut sama kedudukannya dengan tukang pijat, pembekam, tabib, peruqyah, herbalis dan semisalnya. Pemerintah kita dengan adanya lini jasa kesehatan di setiap tempat memang tidak dibarengi dengan memperkayanya dengan metode tradisional. Semoga ke depan, dunia kedokteran tidak sebatas berkutat pada teknologi, ataupun obat-obatan kimiawi. Namun begitu, hal itu pun harus tetap diapresiasi, bagaimana pun semua yang berusaha mengobati tidak dapat lepas dari izin-Nya. []

Aneka Ramuan Obat Kuat Khas Jawa

Berikut ini adalah beberapa ramuan khas Jawa yang masih diyakini khasiatnya, disarikan dari beberapa sumber:

Pertama, Jahe dan Telur Ayam Kampung
  • Jahe 1 ons
  • Telur ayam kampung 1 butir
  • Jeruk nipis 1 buah
  • Kecap 1 sendok makan
  • Kopi bubuk asli 1 sendok makan
  • Madu asli 1 sendok makan
  • Merica 7 biji
Jahe diparut dan diambil airnya, jeruk nipis diambil airnya, telur ayam kampung diambil kuningnya, dan merica ditumbuk halus. Aduk semuanya dengan kecap, kopi asli, dan madu. Minum 15 menit sebelum bercinta. Ramuan tersebut dapat mencegah impotensi.

Kedua, Cacing Kalung
  • Cacing Kalung 5 ekor
  • Adas secukupnya
  • Pulosari secukupnya
  • Gula batu secukupnya
Cacing kalung dicuci bersih, lantas digoreng dengan disangrai tanpa minyak pada wajan tanah liat, sebaiknya tidak dari bahan metal wajannya. Biarkan menghangus hitam seperti arang. Lantas tumbuk dan campur dengan adas serta pulosari secukupnya. Masukkan ramuan ini ke dalam cangkir dan beri air panas kurang lebih 3/4 cangkir. Saring dengan kain kafan putih baru, campur dengan gula batu secukupnya. Minum seminggu sekali. Khasiat ramuan ini adalah memperkuat pastha purusha, atau penis.


Ketiga, Susu Kambing dan Laos
  • Laos kering 3 rimpang
  •  Susu kambing 1 cangkir
Laos ditumbuk hingga halus, campurkan ke dalam susu kambing. Minum hingga habis. Lakukan seminggu sekali. Hal ini akan meningkatkan vitalitas laki-laki.

Keempat, Cabe Jawa
  • Cabe Jawa 6 biji
  • Lempuyang 1/2 kepalan tangan
Cuci cabe jawa dan lempuyang hingga bersih. Tumbuk hingga lembut. Campur dengan 1/2 gelas air matang. Saring dengan kain kafan putih baru. Biarkan mengendak sejenak. Setelah mengendap, minumlah pada waktu sore. Minuman ramuan ini harus harus diselang-seling, jika hari ini minum besok jangan minum. Begitu seterusnya. Khasiatnya membuat kemaluan laki-laki yang lembek jadi keras.

Masih banyak lagi sebenarnya, tetapi kayaknya yang lainnya itu terlampau ektrim, kalau yang ditulis di atas itu rata-rata memang herbal dan memiliki khasiat jika dikonsumsi. Lepas dari itu semua, yang penting adalah bagaimana kita tetap memenuhi gizi seimbang, dan aktivitas yang sebanding, agar tubuh tidak terkesan kerjapaksa ataupun kerja rodi. Salam sehat, biar kiat! :D

Senin, 10 Februari 2014

Tingkatkan Kinerja Memori dengan Rosemary

Rosemary yang memiliki nama latin Rosmarinus officinalis ('dew of the sea') atau orang Spanyol dan Filipina menyebutnya romero, menjadi salah satu jenis tanaman herbal yang di Eropa sana sudah dikenal dan dimanfaatkan sejak era Elizabeth sampai awal mula periode Romantik. Bahkan dalam karya salah satu sastrawan Eropa, Shakespeare, dalam Hamlet-nya, ada tertulis di mana Ophelia berkata, “There’s rosemary, that’s for remembrance.”Apakah pada faktanya rosemary memang dapat meningkatkan daya ingat?

Jawaban singkatnya adalah ya. Sudah banyak penelitian yang mengungkap efek dahsyat rosemary terhadap memori atau daya ingat. Seperti dalam Moss M., Cook J., Wesnes K., & Duckett P. (2003). Aromas of rosemary and lavender essential oils differentially affect cognition and mood in healthy adults. International Journal of Neuroscience, 113(1): 15-38.. Dikabarkan di dalamnya bahwa menghirup aroma minyak esensial dari rosemary dan juga lavender secara signifikan dapat meningkatkan kinerja daya ingat memori kita. Bahkan bisa sampai 75 % sebagaimana diungkap oleh Robert Tisserand

Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan oleh  Nicholas Culpeper pada sekitar tahun 1652, seorang herbalis asal Inggris, yang menulis perihal Rosemary, katanya; "Helps a weak memory and quickens the senses." Dari sini, sebenarnya ada satu hal pesan penting, bahwa tidak jarang apa yang dianggap oleh suatu masyarakat tertentu pada masa dahulu soal pengobatan, sebenarnya memang benar pada aktualnya setelah dilakukan penelitian di era modern. Pada akhirnya, alam memang selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Sayangnya acapkali kita abai pada alam di mana kita tinggal di dalamnya.

Sudah saatnya, di rumah kita, atau di dekat kamar tidur kita, pun di sudut-sudut ruang bila perlu, ditaruh minyak-minyakan aroma terapi, misalnya dari rosemary ataupun lavender, daripada menggunakan pengharum yang lebih banyak menggunakan bahan kimia. Dan jangan ragu untuk menghirup aroma minyak esensial dari Rosemary. Atau, adakah dari pembaca yang menanamnya? Bunganya indah!