Proud of

Proud of

Jumat, 24 Januari 2014

Surat untuk Stiletto Book

Header di website stilettobook.com


Saat aku menulis surat ini, di luar hujan masih saja turun. Maka bertambah jadilah kerinduanku ini. Dan hujan selalu menyembulkan rasa rindu. Rasanya sudah lama juga aku tak menulis surat, sepertinya ini waktu yang tepat aku menulis surat untukmu Stiletto Book, yang juga dapat terbaca oleh pengunjung blogku ini. O ya, ada pepatah—yang sepertinya sudah lumrah—tak kenal maka tak sayang. Dan sejarah selalu punya ceritanya sendiri. Untuk itu aku ingin berbagi kisah awal mula mengenalmu di dunia maya ini.

 .
Jujur, aku memang belum mengenal Stiletto Book sebelumnya. Tetapi Sedikit aku ingin bercerita awal mula hingga sekarang aku jadi tahu bahwa ada penerbit yang bernama Stiletto Book itu. Perjumpaan maya tersebut terjadi pertama kali kala aku mengikuti satu ajang Giveaway yang mana hadiah bukunya dan review buku yang harus ditanggapi itu terbitan dari Stiletto Book yang judulnya Don’t Worry to be a Mommy!

 .
Lalu aku coba mengunjungi halaman mayanya, yang beralamat di www.stilettobook.com, kesan pertama yang jelas Stiletto Book itu erat sekali kaitannya dengan makhluk bernama perempuan. Kemudian apakah aku merasa salah tempat karena aku seorang laki-laki? Tidak juga, malah ini bagus karena memang sudah saatnya buku tidak dimonopoli tema maupun penulisnya di seputaran lelaki saja. Eits, ternyata penulisnya juga ada yang pria lho. Ini artinya, aku juga bisa ngirim naskah bertemakan seputar perempuan kan, Stiletto Book? Hehehe


.
Lanjut; Aku mencoba membuka-buka katalog bukunya, dan ada tiga buku yang ingin aku baca dan miliki. Seperti, Anakku Sehat Tanpa Dokter karyanya Sugi Hartati, S.Psi, apa yang bikin aku tertarik? Dari judulnya saja sudah jelas melawan arus dalam artian, awam memandang bahwa kalau sakit ya ke dokter. Buku ini berusaha ingin menjadikan setiap ibu “dokter pertama dan pribadi” bagi anak-anaknya agar tetap sehat dan terhindar dari aneka penyakit, jika pun kemudian sakit ada pengetahuan beberapa jenis penyakit serta kiat mengatasinya. Selain itu, buku ini dapat memberikan referensi bagi aku yang memang tengah menggeluti ilmu gizi, di mana memang kunci sehat kita bukan ada pada dokter (bisa dibaca: obat) tetapi pada apa yang kita perlakukan pada diri kita, seperti dalam disiplin aku ya asupan gizinya.

 .
Buku kedua karyanya DR. Sri Damayanty Manullang yang judulnya Everything Is Alright—Sekuntum Mawar untuk Negeri, buku berkategori biografi dan memoir ini menarik hatiku, karena di dalamnya berkisahkan tentang perjuangan, dan kisahnya tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Paris, Perancis. Ada banyak elemen pula, mulai dari kehidupan, percintaan, pendidikan, dan juga dunia politik yang dicobanya namun gagal. Tentu banyak berita yang menyatakan bahwa banyak caleg yang sakit jiwa karena nggak lolos ke Senayan, ternyata yang bersangkutan masih tetap semangat hidup dan menghasilkan buku ini. Tentu menarik mengetahui bagaimana ia mencoba melewatinya. Di mana dikatakan juga sempat gagal menikah dengan tunangannya. Ini kisah perempuan yang kompleks. Jadi, aku ingin membacanya.

 .
Adapun buku ketiganya itu berjudul  Girl Talk—sehimpun cerpen karyanya Lala Purwono. Ini buku kepingin aku baca tuh karena ingin tahu seputar apa yang dibicarakan, tema-tema apa saja, dan utamanya karena sudut pandangnya jelas perempuan. Dan namanya saja kumpulan cerita pendek, jadi di dalamnya pasti ada lebih dari satu cerita. Itu tentu memperkaya khazanah, dan ini ditulis oleh satu penulis, jadi bukan antologi cerpen gitu. Moga-moga bisa jadi semacam belajar juga cara membuat cerpen dari cerpennya Lala Purwono ini. 

 .
Well, pada akhirnya nggak nyesel juga sih bisa kenal dan mampir sampai sempat nulis surat ini. Rasanya memang sudah saatnya perempuan seksi tidak hanya dari tampilan fisiknya tetapi juga inteleknya. Dan nutrisi terbaik bagi otak, pikiran, dan wawasan, adalah pengetahuan, dan buku menjadi yang terampuh dalam hal ini. Kiranya, semoga Stilleto Book semakin banyak melahirkan penulis perempuan dengan tematik yang lebih luas, karena apa pun tak lepas dari perempuan. Dan bilakah kemudian aku dapat memiliki ketiga buku yang kusebutkan di atas itu, mungkin aku akan lebih mengenal lebih dalam lagi penerbit yang satu ini. Bukan begitu, Stilleto Book?

.
Salam,
Taufiq Firdaus A A
taufiqfirdausalghifariatmadja@gmail.com

1 komentar: