Proud of

Proud of
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Desember 2014

Protein: Mengapa Tubuh Memerlukannya?

APA yang dilakukan protein dalam tubuh kita? Kurang lebih ada tiga jawaban atas pertanyaan tersebut:
  • Pertama, memastikan bahwa fungsi kekebalan tubuh berjalan dengan baik
  • Kedua, menjaga kesehatan kulit, rambut dan kuku
  • Ketiga, membantu tubuh kita memperoduksi enzim-enzim yang diperlukan untuk sistem metabolisme kita.
APA sajakah yang mengindikasikan bahwa kita memerlukan asupan tinggi protein? Jawaban atas pertanyaan tersebut kurang lebih ada enam sebagai berikut:
  • Pembentukkan otot
  • Mengendalikan berat badan
  • Saat lelah dan lemah
  • Saat terkena infeksi
  • Retensi cairan
  • Saat pertumbuhan dan perkembangan anak melambat
Keenam kondisi itu mengindikasikan kita bahwa kita membutuhkan protein yang tinggi. Lalu darimana kita memperoleh protein? Banyak bahan pangan yang mengandung protein, dan berikut ini beberapa yang dapat dijadikan pilihan dalam memenuhi asupan protein:
Ikan Tuna Tinggi Protein

  • Ikan Tuna
  • Ikan Cod
  • Daging ayam
  • Kacang kedelai
  • Ikan Salmon
  • Daging sapi
  • Udang
  • Domba
  • Kerang
  • Sarden
  • Tahu
  • Bayam
  • Asparagus
  • Bit hijau
  • Sawi
  • Tempe
  • dan lain-lain
Demikian, semoga bermanfaat.

sumber gambar: kuliah-ikan.blogspot.com

Rabu, 17 Desember 2014

Misalnya Aku Hamil: Pesanku "Janganlah Seperti Ashanty"

Sekarang adalah kandungan masa depan, begitu kata Voltaire. Suatu kali, Bunda Salfa bertanya, "Kalau kamu ditakdirkan hamil, kira-kira mau melahirkan normal, gentle birth, water birth atau SC? Alasannya apa?"

Jujur saja itu pertanyaan yang sulit, sekalipun banyak selentingan bahwa bikin anak itu mudah. Omong kosong. Mungkin orang yang berkata seperti itu tidak tahu bahwa beberapa pasangan harus bersabar cukup lama agar memperoleh momongan. Lalu, seandainya aku ditakdirkan hamil? Melahirkan macam apa yang ingin kulakukan. Anggap saja postingan ini semacam surat untuk diriku yang lain, yang barangkali di suatu masa malah takdirnya itu memang mengalami yang namanya hamil. Maka pesan pertamku adalah JANGANLAH SEPERTI ASHANTY!

Ya, dan saya memang lebih cenderung memilih persalinan normal. Tetapi apapun model melahirkannya, yang kemudian dipilih oleh diriku itu, tidak akan pernah yang namanya dipublikasikan seperti proses melahirkan yang dilakukan oleh Ashanty. Aku akan menolak sekalipun suami yang menyuruh, karena cinta seharusnya saling menghargai kehormatan masing-masing. Tetapi, alasan mendasar mengapa aku cenderung memilih melahirkan normal sesuai zamannya, berarti kalau sekarang ya tetap didampingi oleh bidan, karena untuk gentle birth akan banyak pertimbangan apalagi jika kelahiran pertama. Sedangkan water birth tidak sedikit kabar soal risiko kurang baiknya bagi si bayi. Sedangkan SC, rasanya kalau bisa normal mengapa harus SC?

Hamil, melahirkan, dan punya anak. Memang suatu momen yang luar biasa. Seperti kata Voltaire, ada harapan di dalam tiap kehamilan yang sekarang, kita pasti mengharapkan anak yang lahir paripurna, dan selamat pula ke kitanya. Di sini, sudah seharusnya bumil alias ibu hamil memperhatikan gizi prahamil dan gizi hamil. Sebagaimana memperhatikan gizi pranikah pada masa sebelumnya. Massa kandungan adalah proses yang tidak kalah berat perjuangannya dengan proses melahirkan, karena ini terkait dengan penyediaan asupan terbaik bagi si buah hati. Rasanya aku akan menjadi ibu hamil yang cerdas, yang penasaran, sehingga mencari tahu khususnya ke bidan tentang perkembangan aspek kesehatan dan memastikan bahwa ayah si buah hati menjadi SIAGA. Dan tentunya, selain memperhatikan aspek gizi, harus pula memperhatikan aspek aktivitas fisik atau olahraga. Ini perlu juga.



Pada akhirnya, melahirkan dengan normal dan selamat adalah suatu idaman agar masa depan terasa lebih melapangkan. Tetapi, kadang semua sangat rahasia. Namun yang pasti, sekalipun memilih melahirkan normal, sepertinya aku tidak akan melakukan upaya melihat janin dalam kandungan, biar kejutan saja. Ya, begitu saja kira-kira apa yang akan kupilih. Tetapi pengandaian ini jelas memang terlalu mengada-ngada, setidaknya berarti nanti jika aku punya istri, dan aku menjadi suami yang akan menjadi bakal ayah, tidak akan seperti Anang!

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Hamil dan Melahirkan ala Bunda Salfa


Minggu, 21 September 2014

Duh! 11% Anak Usia 15 - 19 Tahun di Indonesia Adalah Perokok Aktif!

Bagiku angka 11% itu cukup tinggi dan bukan suatu kabar yang menggembirakan. Bagaimana jadinya kalau mereka setiap hari merokok sejak usia sedini itu? Walaupun itu adalah hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sepertinya di tahun 2014 angkanya belum dapat menurut. Karena saya dapati di sekitaran saya pun, misalnya saat akan pergi ke kampus kadang melewati suatu warung yang di mana banyak anak-anak setingkat SMP nongkrong di situ sambil petantang-petinting menghisap rokok, bahkan kadang ada anak SD sembunyi-sembunyi di area yang banyak pohon untuk merokok! Sebuah pemandangan yang memperihatinkan bagiku.

Ini jelas suatu kemunduran, di tengah upaya keharusan peningkatan status gizi anak sekolah ternyata mereka malah nyari masalah. Walaupun tentu saja itu dapat dikarena kekurangtahuan mereka tentang bahaya rokok bagi kesehatan dan pentingnya memperhatikan status gizi mereka. Dan kadang juga memang ada guru khususnya guru yang laki-laki suka merokok di area sekolah. Itu jelas tidak memberikan suatu teladan. Padahal guru seharusnya digugu dan ditiru.

Orang tua utamanya harus memberikan kontrol yang lebih, sejauh anak tersebut memang belum dewasa, kalau sudah dewasa pada akhirnya mereka punya pilihan tersendiri dengan tetap kewajiban adalah menasehati dan memberikan sosialisasi ke arah kesehatan yang baik. Atas hasil riset tersebut yang lengkapnya sebagai berikut:


Kita sebagai suatu bangsa harus perihatin kalau generasi muda sudah terlalu biasa dalam perilaku merokok yang sangat berisiko itu. Semoga anak-anak rekan pembaca sekalian tidak termasuk ke dalam kelompok yang disurvei itu. Perhatikanlah mereka!