Proud of

Proud of

Jumat, 10 Oktober 2014

Ada Cerita dalam Setiap Tanya: Review "Rindu" by Tere Liye



            Setiap perjalanan selalu disertai pertanyaan-pertanyaan. [Rindu, hlm. 222]


            PERJALANAN, sepertinya menjadi “takdir” mutlak setiap manusia di muka bumi ini, dari sejak adanya pendahulu kita sampai ke masa kini. Layaknya yang pernah terjadi di masa lalu, di suatu lembah, yang sebelah timurnya berbatasan dengan laut Merah serta dataran Tihamah dan Nejed, yang selalu dibanjiri cahaya matahari. Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menggendong buah hatinya, berhenti dari suatu perjalanan. Kemudian, muncullah pertanyaan-pertanyaan.
            Ketiga orang itu tentu saja pembaca ketahui, mengingat nama mereka tersohor hingga kini, siapa lagi kalau bukan Ibrahim, Hajar, dan bayinya yang diberi nama Ismail. Dari perjalanan mereka bertiga kemudian banyak muncul aneka peristiwa yang dikemudian hari menjadikan banyak manusia mengalami panggilan kerinduan untuk melaksanakan undangan perjalanan, ke suatu lembah yang berdiri di tengahnya suatu rumah yang penuh kerahmanan dan kerahiman, yang kita sebut dengan Ka’bah, Baitullah.
         Sedangkan undangan perjalanan tersebut dikenal dengan istilah haji. Sejak diserukannya untuk pertama kali, banyak manusia yang datang dari segenap penjuru yang jauh, baik berjalan kaki maupun menggunakan unta (re: sarana transportasi) [Q.S. 022: 27]. Di mana hal itu berlangsung hingga sekarang, bahkan saat Indonesia masih berjuluk Hindia Belanda, banyak umat Islam yang jua melakukan perjalanan penuh kerinduan itu.
            Di zaman itu, naik haji adalah perjalanan berbulan-bulan. Penuh perjuangan, penuh airmata keharuan, penuh airmata keinsyafan. Mengorbankan waktu, harta, bahkan dalam banyak kasus, juga nyawa. Jamaah yang berangkat membawa pertanyaan-pertanyaan masing-masing. Baik yang menyadari benar apa pertanyaannya atau hanya tersirat dalam doa-doa. [Rindu, hlm. 222]
            Begitulah, barangkali, pijakan yang kemudian menghasilkan suatu tulisan berupa novel yang bertutur tentang kisah beberapa anak manusia yang tengah menempuh perjalanan suci ke bumi Mekah. Suatu kisah, yang oleh Tere Liye selaku penulisnya dibubuhi judul “Rindu”.
            Syahdan, “Hari itu, 1 Desember 1938, sebuah perjalanan besar dimulai” [Rindu, hlm. 13], setelah sebuah kapal besar milik perusahaan logistik dan transportasi asal Belanda berlabuh di dermaga pelabuhan Makassar. Dan kapal itu bernama Blitar Holland. Pembaca mungkin sedikit banyak akan teringat pada Titanic ataupun Van der Wijck, hanya saja nasib Blitar Holland tidak seburuk keduanyanya itu, walaupun pada beberapa waktu dalam perjalanannya mengalami hari-hari yang berat. Sungguh pun karya manusia itu canggih, laut tidak pernah dapat diduga kekuatannya.
            Pada awalnya, Blitar Holland tidak diperuntukkan untuk alat transportasi pengangkut jemaah haji, sebagaimana umumnya perusahaan kapal Belanda, umumnya mereka mengangkut rempah-rempah, tetapi, melihat tiap tahun selalu meningkat peminat jemaah haji, dan hampir setiap tahun ada terus tak peduli musim dan depresi ekonomi apapun, para tamu-Nya, selalu ada. Maka Blitar Holland pun dialihfungsikan mengingat “lebih menguntungkan mengangkut manusia,” ujar kapten kapal, Philips.
            Cerita pun bergulir, hingga para jemaah haji dari Makassar hingga Banda Aceh akhirnya terangkut semuanya. Dan begitulah, pada waktu itu, kapal memulai mengangkut jemaah dari Indonesia bagian Timur, utamanya Makassar, di mana mereka yang dari Ternate harus lebih dulu sampai di dermaga sebelum Blitar Holland tiba. Diteruskan kemudian kapal menyusuri pelabuhan-pelabuhan di pesisir pantai utara Jawa, seperti Surabaya dan Batavia, dan dilanjutkan ke pantai bagian barat Sumatra sampai kemudian tiba di Serambi Mekah, Aceh Darussalam. Di setiap pemberhentian, senantiasa menorehkan kisah tersendiri, baik itu sekadar berupa informasi ataupun intrik dari para penumpang maupun para kelasi.
            Hal itu tampak misalnya saat di pelabuhan Surabaya dan Batavia, di mana transportasi pada masa itu sudah terdapat yang namanya trem, dan hal itu sangat membantu pada masa itu. Tetapi, jika melihat setting tahun cerita “Rindu” ini berlangsung memang tidak lepas dari yang namanya huru-hara, perjuangan dan perlawanan pribumi yang militan terhadap penjajah Belanda, sampai-sampai seorang penumpang yang masih kanak-kanak harus terjebak dalam baku tembak, kalau saja kemudian tidak ada seorang kelasi yang bernama Ambo yang menolongnya, mungkin gadis bernama Anna itu sudah tercerai dari dunianya yang senantiasa ia isi dengan kecerian dan kepolosan itu.
            Tentu saja tidak hanya saat di pelabuhan, saat di kapal pun beberapa penumpang kerap bersitegang dengan petugas keamanan Belanda, untung saja tidak semua orang Belanda itu serigala. Hal itu memang tidak lepas dari adanya para penumpang yang memang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, sehingga laik disebut cerdik pandai, yang dikhawatirkan oleh pihak Belanda akan melakukan makar terhadap eksistensi Hindia Belanda.
            Dan, sebagaimana umumnya suatu cerita, memang berkelindan pada beberapa nama, begitu pula dalam “Rindu”-nya Tere Liye ini, dan nama-nama tokoh itu antara lain Daeng Andipati, Gurutta Ahmad Karaeng, Bonda Upe, dan Ambo Uleng, yang menjadi pusaran lautan ceritanya. Menjadikan kisah dalam suatu cerita  berpilin dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan itu sendiri.
            Hatta, kita akan menemukan seseorang yang harus berhadapan dengan “takdir” masa lalunya yang
penuh dengan kenistaan dan rasa takut yang menghantui soal aib yang mungkin tersingkap, ibarat bangke, tentu aromanya akan tercium jua. Lalu bagaimana menghadapi masa-masa sulit begitu jika memang harus tiba? Dan tentang seseorang yang selalu dianggap sebagai manusia yang berbahagia ternyata di dalam hatinya penuh dengan onak duri kebencian yang menjadikan batinnya tidak bahagia, di mana hal itu semakin perih karena “dia” yang dibenci itu adalah ayahnya sendiri. Lantas ada juga soal pemuda yang harus lari dari kenyataan bahwa kisah cintanya harus kandas karena kekasihnya akan dijodohkan, sehingga dia lari dari kenyataan, padahal, yang namanya dunia asmara, perkara patah hati adalah sangat mungkin terjadi, dan apakah dengan penerimaan semua akan berubah lebih baik? Tidak hanya itu, kita pun akan menjumpai seseorang yang selalu menghadirkan jawaban-jawaban alternatif atau kebuntuan suatu pertanyaan ternyata tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, seseorang yang kadang peragu, seseorang yang ada dalam ambang kemunafikan dalam perjuangan.
Ah! Kesemuanya itu rasanya kita sekalian sedikit banyak merasakan betul pergulatan batinnya tersebut. Di mana seluruhnya pada akhirnya berujung pada pertanyaan-pertanyaan soal cinta sejati, kebahagian sejati, kedamaian sejati, serta perjuangan hakiki, namun kesemuanya itu tentu saja tidak lepas dari suatu cerita yang melatarbelakanginya. Di mana kerap kali yang masa lalu senantiasa menjadi benalu yang masa kini. Dalam hal ini, pencarian solusi menjadi penting, dan lebih penting dari itu adalah bertanya pada orang yang tepat dan mengerti, terlebih dapat dipercaya. Sebab bagaimana pun, selalu ada yang rahasia dari setiap persoalan kehidupan kita masing-masing, yang kemudian saling memperkaya khazanah masing-masingnya.
            Tetapi, tidak setiap pertanyaan punya jawaban yang pasti. Beberapa justru hanya butuh penerimaan saja. Dan di tengah aneka konflik yang pahit itu, pembaca diberikan “selingan kehidupan” para jamaah cilik, tentang bagaimana mereka bersikap atas segala aneka sikap orang dewasa, dan tentang kesehariannya bersekolah di atas kapal, sempat ada kegiatan belajar di ruang kantin kapal, mengingatkan saya pada mata kuliah manajemen jasa makanan dan gizi. Banyak hal yang akan mengundang bius senyum pembaca, terlebih karena ada pula pasangan pasutri yang sudah sepuh, yang memberikan gambaran bagaimana itu yang namanya keluarga yang bahagia. Dan dalam hal penyajian fragmen anak-anak rasanya Tere Liye tidak diragukan lagi memang piawai dalam hal itu.
            Apakah rindu mereka itu kemudian berujung temu? Ini memang lebih rumit dari sekadar kangen semata. Karena sebagaimana perjalanan, sekalipun itu di jalan tol, kerap kali ada kemacetan, bahkan kecelakaan lalu lintas. Maka, jangan dikira bahwa perjalanan kapal Blitar Holland itu lancar-lancar saja, sebagaimana diungkap di muka, hari-hari buruk pun sempat menghantui. Mulai dari kerusakan mesin, adanya penumpang yang meninggal dunia yang harus dimakamkan dengan jalan ditenggelamkan ke laut yang membuat banyak kesedihan menggantung di kabin-kabin kapal, sampai terjadinya “penjagalan” kapal yang kemudian dapat dibalikkan keadaannya, ini termasuk bagian yang paling heroik yang menarik menurut saya. Soal akhir, sebagaimana umumnya niat baik, Insya Allah selalu berakhir dengan kebahagiaan.
            Hadirnya “Rindu” ini memang sangat relevan dengan serangkaian ritus yang kita lalui, yakni perayaan iduladha, di mana, di bulan ini, prosesi haji dilaksanakan. Tetapi tentu saja kita akan bertanya-tanya mengapa kemudian penulis mengambil setting justru pada tahun sebelum kemerdekaan, dan bukan pada masa yang sudah canggih seperti sekarang ini, di mana para jemaah haji sampai-sampai bisa—atau bisa-bisanya!—selfie dengan hajar aswad? Saya tidak dapat menduga-duga modus sebenarnya dari keberadaan suatu karya, tetapi dari dialog salah satu tokoh, sepertinya penulis menyisipkan sesuatu, bahwa melalui tulisan kita dapat menyebarkan suatu pemahaman. Kepahaman macam apa yang kemudian hendak disampaikan? Tentu saja setiap pembaca dapat mengambil poin yang berbeda tergantung kacamata bacanya masing-masing, tetapi menurut hemat saya ini adalah sebagai bentuk pengingat pada kita sekalian tentang pentingnya masuk ke dalam proses “perjalanan” secara total. Dan semacam kritik, yang bertanya secara tidak langsung, apakah kemudian yang menempuh haji pada masa kini itu karena kesungguhan atau sekadar wisata (rohani)?
            Pertanyaan itu tentu saja hanya bisa dijawab oleh pribadi masing-masing. Tetapi dalam kesempatan ini saya memang harus jujur, karena tamu-tamu Allah dalam cerita “Rindu” ini—khususnya yang mendapat fokus—memang orang-orang yang keren!, dalam artian memang orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ketaatan, di samping mereka memiliki sisi kelamnya tersendiri. Hal itu terlihat pula dari penunjuk waktu yang selalu mengambil bentuk waktu-waktu salat, saya kira ini ada untungnya juga bagi pembaca, mengapa? Sebab jikalau saat membaca bertepatan dengan waktu salat maka seyogyanya ditunda terlebih dahulu untuk kemudian salat karena banyak bagian dari “Rindu” ini ialah memenuhi kerinduan panggilan-Nya, bukankah azan adalah panggilan-Nya jua?
            Akan tetapi, sebagaimana peribahasa tidak ada gading yang tak retak, “Rindu” ini pun begitu adanya. Di beberapa bagian saya masih menjumpai adanya kesalahan pengetikkan nama tempat maupun nama tokoh, termasuk perihal tahun, seharusnya 1938 malah 2013. Dan adanya huruf ganda pada suatu lema, termasuk masih kurang konsistennya dalam menggunakan kata baku berdasarkan KBBI, utamanya pula terkait kata-kata istilah keislaman yang sebenarnya sudah ada bentuk serapannya yang baku. Pun adanya kata yang tidak dispasikan. Ini memang hal-hal teknis, tetapi tidak banyak dan tidak terlalu mengganggu. Dan pada hlm. 501, saya temukan baris yang cukup “metaforis”, kantin tertawa sejenak. Juga dijumpai beberapa baris syair yang melipur. Selebihnya, gaya tutur dari seorang Tere Liye tetap menjadi suatu khas.
            Akhirul kata, novel yang diterbitkan oleh Republika Penerbit ini, sudah dapat pembaca peroleh di toko-toko buku terdekat, dengan tebal 544 halaman dengan ISBN 978-602-8997-90-7, Cetakan Pertama, Oktober 2014, dengan ukuran huruf yang tidak kecil tidak besar, enak dibaca. Walaupun agak disayangkan, karena adanya halaman kosong di tiap bab baru (walaupun tidak semua), yang seharusnya bisa diefisienkan, dengan sistem bulak-balik saja. Pada akhirnya memang, menjadi suatu kado tersendiri bagi umat Islam yang baru saja merayakan kurban. Semoga dengan membaca “Rindu” ini, kita dapat lebih menyadari aneka pertanyaan kita masing-masing dalam hidup ini, dan barangkali dari pertanyaan-pertanyaan serta jawaban-jawaban alternatif dalam “Rindu” tersebut, sedikit banyak dapat menjadi bahan berpikir dan mengukir. Demikian ulasan saya, kurang lebihnya mohon maaf. []

59 komentar:

  1. Novel barunya Tere Liye ya? Saya pernah baca yang Semoga Bunda Disayang Allah, itu menarik. Kayaknya agak ada kesamaan, soalnya menyinggung soal kapal juga, walaupun sekilas. Di novel tersebut lebih jelas ya, dan sepertinya beraroma sejarah gitu kalau lihat setting tahunnya. Terakhir ke toko buku belum lihat buku ini, tapi justru kumpulan sajaknya Tere Liye yng terbaru tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap ini novel barunya bang tere liye. kalau kumpulan sajaknya kurang begitu suka, kayaknya lebih cocok jadi novelis aja sih. Soal settingnya emang informatif, jadi banyak bagian napak tilas sejarah bangsa... khususnya beberapa nama masyhur dari ranah Bugis... yang pada akhirnya upaya berseru bahwa kemerdekaaan adalah hak segala bangsa....

      Hapus
  2. Produktif banget ya novelis yang satu ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, novelis yang satu ini memang produktif banget, malah banyak karyanya jadi bestseller! Kadang heran, tapi itulah "mukjizat" atau keajaiban tulisan :D

      Hapus
  3. Kunjungan balik, terima kasih telah berpartisipasi dalam kuis #EmEmCe : Merangkai Kata. Jawaban telah kami terima... Happy blogging...

    BalasHapus
  4. keren reviewnya.. jadi pengen beli bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo segera ke toko buku terdekaaat gusmaaan
      atau mau pesen sini hehehe tapi plus ongkir yaaa hahaha :p

      Hapus
  5. Buku Tere memang ciamik
    Saya beberapa kali membeli untuk hadiah GA
    Terima kasih reviewnya yang bermanfaat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin... nggak sabaran ikutan GA-nya deh kalau gitu Pakde hehehe

      Salam hangat juga dari anak Garut di Bogor ^^

      Hapus
  6. Kunjungan malam, maaf belum sempet baca artikelnya soalnya bnyk tugas hehe, ijin bookmark dulu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gpp, makasih ya sudah dibookmark, dishare juga gpp hehehe

      Hapus
  7. keren juga nih cerita nya, sangat menginsirasi, makan gan atas ulasannya yah

    salam kenal ya gan & salam hangat dari palembang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah dari palembang ya? Enak banget tuh empek-empek hehehe
      Makasih ya sudah berkunjung salam kenal juga...

      Hapus
  8. Review bukunya lengkap, tergambar perjalanan fisik dan bathin dari buku dengan jelas, penasaran ingin baca bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak Ysalma...
      Iya... kalau sempat ke toko buku, bagus juga novel iini masuk dalam list belanjaaan... hehehe

      Hapus
  9. reviewnya komplit ini..tinggal nyari bukunya..hehehe.. jd ingat kisah org2 yg berhaji di jaman itu..perjalanan haji bisa ditempuh 40 hari lamanya dgn kapal laut..beda dgn sekarng.. semua serba wuuzzzz....hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Met nyari ya Mas Aldino... Iya, lama banget zaman dulu itu. Bukunya Henri Chambert-Loir yang judulnya Naik Haji di Masa Silam Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 ya? Hehehe emang keren, tapi belum kebeli.... hihihi baru baca di tokbuknya aja

      Hapus
  10. Sipp.. keren resensinya..
    Pernah baca kisah sang penandai? nah tu novel mirip banget sama novel Rindu ini. latarnya sebuah perjalanan dgn menggunakan kapal, cuman novel sang penandai lebih fiktif...
    keep writting mas, tar boleh yaa mampir di tulisanku, tapi skrg belum di publish coz masih banyak ide-ide yang belum terkoordinir di tulisanku hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sang penandai? Karangannya siapa ya? Maaf aku baru denger mas hehehe
      Ok oke ntar mampir :)

      Hapus
  11. Banyak banget yang bilang Tere Liye bagus tapi saya belom pernah baca euy. Menarik kayaknya buku yang ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya relatif sih, tapi memang ada plus minusnya. Baiknya sesekali sempatkan baca :)

      Hapus
  12. Reviewnya keren banget. Saya menikmatinya seperti menikmati cake coklat yang lezat. Tak mau cepat habis, jadi saya nikmati review ini perlahan agar tak ada satu kalimat pun tercecer. Suka sama pemaparan dan bahasa yang dipakai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bunda Ika
      I love cake coklat too hehhee

      Hapus
  13. Rivew nya menarik, bisa menjabarkan dengan sederhana alur yg dibangun si pengarang dengan gaya yg berbeda, sehingga saya yg belum pernah membaca lengkap buku pengarang aslinya pun bisa menggambatkan betapa menariknya buku ini. Jadi tertarik untuk baca buku lengkapnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Amrillah mesra atas komentarnya..Bukunya sudah ada di toko2 buku jadi mudah untuk didapatkan...Kalaupun mau boleh pinjam punya saya :D

      Hapus
  14. Ikutan kontes review yah, Mas?, hehehe.
    bagus reviewnya, bikin penasaran ingin membacanya. saya punya tiga buku bang Tere, tapi tidak termasuk Rindu, hihii. pinjam dong, Mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih Bang Richo, saya lagi ikut ajang meresensi hehehe #doakanaku ya :D

      Teriima kasih, masih belajar ngereview kok :)

      Saya juga belum punya lengkap karyanya, karena banyak banget.... Sedangkan kalau beli versi banyakannya agak males hehehe

      Rindu ini salah satu koleksi

      Boleh-boleh, sini-sini kalau mau baca, tapi kalau pinjam jangan lupa balikin ya hahhaa

      Hapus
  15. Dahsyaat... Sempat penasaran tentang apa isinya. Awalnya saya kira tentang cerita rindu dua orang insan, ternyata antara dua makhluk tuhan: Manusia dan rumahNya.

    Sepertinya masuk list buku yang perlu dibaca bulan ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sempet kecele nih. Kirain soal sepasang kekasih. Judulnya nge-pop soalnya.

      Hapus
    2. @Iqbal

      Iya nih, awalnya juga sempet kepikir begitu. Eh ternyata hehehe tapi bagus gitu sih, jadi kagak ketebak dari luarnya ya. Met hunting dan selamat membacanya

      Hapus
    3. @Anonymous10/16/2014 10:19:00 AM

      Tapi tetep menarik dibaca, kan? :p

      Hapus
  16. komplit reviewnya. Tere Liye termausk yang produktif juga ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya produktif banget... jadi pengen kayak dia deh... dari segi aspek produktifitasnya :) btw thanks ya

      Hapus
  17. Boleh juga nih resensinya nggak terlalu muja muji, seimbanglah.

    BalasHapus
  18. Ada typo nya ya, editornya pas lagi ngantuk jadi kurang teliti hehehe

    BalasHapus
  19. @rahmi 10/17/2014 01:02:00 AM

    Hehehe bisa jadi tuh...

    BalasHapus
  20. Saya juga lagi baca novel ini.
    Suka dengan tulisan-tulisan Tere Liye :)

    BalasHapus
  21. mantap reviewnya, beli ahhhhhhhhhh, :D :D

    BalasHapus
  22. aku juga penyuka novelnya tere liye....wah bagus banget nih resensinya....jadi kegambar semua isi tentang cerita novelnya...tapi masih penasaran sih sama novelnya...jadi pengen beli...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Rikk...
      Ayo beli beli, jangan malas baca ya hehehe

      Hapus
  23. Rencana mau beli buku ini juga....bagus kayaknya nih novelnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Marlita

      Insya Allah, ada suatu hikmah yang dapat dipetik dari novel tersebut :)

      Hapus
  24. Wah asyik juga ya baca resensinya
    Meski nggak baca bukunya, karena bahasanya yang gamblang
    dan sederhana, membuat kita mudah memahami alur ceritanya
    novel ini memberikan gambaran tentang salah satu ritual keagamaan
    yang sarat makna bagi kehidupan. salut buat resensatornya

    BalasHapus
  25. Gaya bahasa dalam resensi ini sangat komunikatif dan memikat sehingga pembaca tertarik untuk membaca novelnya

    BalasHapus
  26. Bagus nih novelnya...makasih yah udah dibikinin resensinya komplit....

    BalasHapus
  27. Covernya sederhana, tapi isinya sungguh tak sederhana. Menarik untuk dibaca hingga tuntas. Dan, semestinya kesalahan-kesalahan teknis sudah tak perlu ada karena penulisnya sudah banyak karyanya, tapi benar, tak ada gading yang tak retak. Hmm, jadi kepengen membacanya secara langsung.

    BalasHapus
  28. Tere Liye sangat populer sekali, suka dengar orang membahas itu. Baru tau setelah baca artikel ini

    BalasHapus
  29. masih agak males dengan novel ke "baperan"

    BalasHapus