Proud of

Proud of

Rabu, 23 April 2014

Kembangkan Pembangunan Negeri dengan Investasi Gizi


pic from healthy-holistic-living.com

Menurut Soekirman (2006) dalam makalah Perkembangan Ilmu Gizi dan Pergeseran Pendulum Aplikasinya dalam Program Gizi, diperkirakan kurang lebih 800 juta atau seperenam penduduk negara berkembang, tidak punya akses terhadap makanan yang cukup dan seimbang untuk kebutuhan gizi. Dari jumlah tersebut, 280 juta terdapat di Asia Timur, termasuk Indonesia. Hampir sepertiga anak balita di negara berkembang dalam keadaan gizi kurang dan gizi buruk dengan tanda berat badan rendah dan atau pendek. Selain itu 30 % penduduk dunia juga menderita kekurangan zat gizi mikro, dalam hal asupan vitamin serta mineral. Dan masalahnya tidak hanya soal kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi sehingga tidak sedikit yang mengalami obesitas, dan itu pun tidak menguntungkan.

Kita dapati, masalah gizi kurang dan buruk masih muncul di beberapa daerah, dan itu tidak hanya terjadi di pedalaman atau pedesaan maupun wilayah pesisir, jika kita mau membuka mata, mereka yang ada di pinggiran kota atau tengah kota pun banyak yang mengalami masalah gizi. Dan tentu kita sadari juga bahwa masalah gizi adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh siapa pun. Semestinya memang, bidang gizi haruslah juga menjadi perhatian pemerintah sebagai bagian dari pengembangan pembangunan negeri Indonesia ini. Jika sudah menyebut pemerintah memang hal ini tidak dapat lepas dari yang namanya keputusan maupun kebijakan yang dibuatnya, baik di pusat maupun di tingkat daerah, yang sampai saat ini masih sering kali terdapat kerancuan, sehingga tidak jarang masih didapati berita di media massa adanya warga negara yang mengalami masalah gizi. 

Di tengah keperihatinan tersebut, kita sebagai bagian dari warga negara yang hidup di satu bangsa bernama Indonesia, memang haruslah juga mengambil peran dalam hal investasi gizi. Selain upaya kritis terhadap pemerintah, sangat bagus apabila kita mulai perbaikan gizi dari diri sendiri, utamanya keluarga dan lingkungan sekitar. Dan sangat baik bilamana lembaga penyalur dan penyubur dana dari masyarakat juga mengambil langkah aktif dalam hal investasi bidang gizi. Tentu kita ketahui bersama, apalagi kaum dhuafa, anak-anak yatim, keluarga yang tergolong miskin, jelas menjadi satu kondisi yang dapat menjadi faktor penyebab mengalami masalah gizi. Untuk itu memang perlu dibuat program-program yang mengarah kepada perbaikan gizi, dan hal ini memang tidak lepas juga dari aspek pendidikan, sosialisasi dari pentingnya pengetahuan atau ilmu gizi bagi masyarakat.

Mengapa penting? Karena jika gizinya seimbang, kesehatannya akan jadi baik, tidak mudah terserang penyakit, harapan hidupnya lebih tinggi, sehingga produktifitasnya meningkat. Para pekerja jadi semangat, dan anak-anak pun jadi rajin ke sekolah dan prestasinya pun gemilang baik akademik maupun non-akademik. Jadi gizi berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang mana kualitas sumber daya manusia akan berpengaruh kepada pemanfaatan sumber daya alam yang ada secara bijak. Sebab tidak hanya kelaparan nyata yang harus dihindari, tetapi juga kelaparan tak nyata atau kurang gizi harus diberantas. Mereka yang kurang beruntung mungkin saja makan, tetapi tidak hanya perkara hilangnya lapar karena perut sudah diisi suatu makanan, sebab masalah gizi terkait dengan tidak terpenuhinya zat gizi secara seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan lagi, tentu tidak hanya otot ataupun perut yang perlu asupan, tetapi otak juga, bukan?

Maka itu, memang perlu dilakukan sosialisasi melek gizi hal ini dapat dilakukan pula secara individual misalnya melalui tulisan di blog masing-masing, misalnya tentang perubahan di mana kini bukan lagi era 4 sehat 5 sempurna tetapi gizi seimbang, dan tentu tidak salah jika kemudian pihak tertentu melakukan program bakti sosial bidang gizi, misalnya dengan melakukan program kerjasama dengan pihak sekolah dengan dilakukannya pemberian menu sarapan sehat atau makan siang yang sehat. Tidak hanya sebatas gizi anak sekolah, bisa juga menyangkut program gizi pranikah, gizi bumil (re: ibu hamil), gizi balita, dan lansia. Semua itu bila dihitung-hitung pembiayaannya lebih rendah dibandingkan saat harus menanggulangi dampak dari aneka masalah gizi. Dengan investasi gizi, selain meminimalisir dari aneka masalah gizi, juga mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing yang tinggi. Adalah sangat keliru jika kemajuan itu dilihat dari mudahnya masyarakat mendapatkan obat gratis yang mana berarti membiarkan warga sakit atau mudah sakit dulu, padahal yang penting adalah agar sehat, bukan agar sembuh. Memang sih, jangan takut sakit karena obat digratiskan oleh pemerintah misalnya, tetapi lebih baik lagi tentu menjadi sehat sehingga tidak sakit dan tak perlu juga mengkonsumsi aneka obat yang kebanyakan dari bahan kimiawi yang tidak baik juga bagi kesehatan kita, bukan?

Satu hal lagi yang menjadi landasan mengapa investasi gizi perlu, adalah adanya faktor budaya tertentu yang justru bertentangan dengan ilmu gizi misalnya dilarang makan ini dan itu, padahal barometernya hanya sebatas mitos bukan sesuai logos (re: ilmu), untuk itu urgensi dari investasi gizi dalam hal penyebaran pengetahuan tentang gizi seimbang menjadi penting. Selain itu, investasi gizi harus juga diupayakan berbasis pangan lokal, banyak sekali di negeri ini pangan yang bergizi, sangat diharapkan suatu hari nanti pangan utama kita tidak harus beras (re: nasi), sehingga kita tidak harus banyak impor beras, sebab sumber karbohidrat tidak hanya dari beras, bukan?

Sudah saatnya kita memang peduli terhadap aspek gizi, bahkan seorang tokoh bernama Ludwig Feuerbach pernah berkata: "you are what you eat..." atau "kamu adalah apa yang kamu makan..." Perbaikan gizi adalah upaya penghematan karena terpenuhinya gizi seimbang tidak harus mahal bila kita tahu ilmunya, dan pada akhirnya kesehatan meningkat. Bukankah ada peribahasa juga, mencegah lebih baik daripada mengobati? Secara biaya, hidup sehat lebih murah dibandingkan upaya pengobatan di rumah sakit yang mana selain biaya dietnya juga biaya obat, dokter, maupun fasilitasnya. Jadi, investasi gizi adalah langkah hemat tetapi dapat menghebatkan, sebab kita menjadi sehat juga produktif baik motorik, psikomotorik, maupun kognitif. Dengan kata lain, perbaikan gizi ialah upaya bersama untuk mengembangkan pembangunan negeri dengan peningkatan kualitas kesehatan dan intelektual sumber daya manusia Indonesia, yang mana dari itu akan berdampak juga pada sektor lainnya. Tidak salah bila Tuhan memang lebih menyukai manusia yang kuat (re: sehat) daripada yang lemah (re: sakit)! Karena mereka yang kuatlah yang dapat lebih banyak produktif, inovatif, serta kreatif, sehingga kemajuan pun dapat digapai. Dan dapat menjadikan Indonesia move on dari aneka masalah gizi serta yang lainnya. Dan untuk hal ini, kita bisa mulai dari diri kita masing-masing, sebab kita semua tentu butuh makan, tetapi jadikanlah makan itu untuk bertahan hidup (re: sehat) bukannya hidup hanya untuk makan saja. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar