Proud of

Proud of
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2015

Jupiter Ascending: Yang Berharga Adalah Waktu

Film fantasy, bagiku memang selalu menarik, dan memantik rasa penasaranku untuk menontonnya. Dan akhirnya, pada senin yang basah ini, aku putuskan menonton film Jupiter Ascending! Film yang bergenre action, adventure, fantasy and sci-fiction ini dibintangi oleh Channing Tatum, Milan Kunis, dan Eddie Redmayne.

Singkat cerita, filmnya ini berkisah tentang sepasang manusia yang melahirkan anak yang mengandung gen reinkarnasi dari anggota kerajaan di luar angkasa sana--jadi dalam film ini digambarkan bahwa di luar angkasa yang mahaluas itu, banyak planet-planet yang masing-masing dimiliki oleh makhluk tertentu yang ada penguasanya masing-masing, dan dalam hal ini planet bumi ternyata adalah harta warisan milik  anak yang terlahir kendunia itu, yang bernama Jupiter Jones. Jupiter, sebagai seorang perempuan yang cantik, memiliki hidup yang cukup membosankan, yakni sebagai tukang pembersih rumah. Padahal ia adalah Yang Mulia pewaris planet bumi. Sampai kemudian datanglah seseorang yang kemudian mengubah 180 derajat kehidupannya.

Dari situ semakin peliklah permasalahan. Di mana Jupiter adalah reinkarnasi dari seorang ibu yang memiliki beberapa anak yang saling berebut kekuasaan atas planet-planet agar bisa "panen". Dan tahukah apa yang dimaksud panen di sini? Menyedihkan memang, panen di sini berarti memanen manusia untuk diambil saripati gennya, agar mereka penguasa luar angkasa itu bisa terus awet muda dan berusia ratutan tahun lebih. Ketika Jupiter Jones bertanya mengapa, salah satu anak dari ibu yang menitis pada diri Jupiter berkata, karena yang paling berharga adalah waktu!

Ya... ya... ya... Film fiksi ini mengajak kita untuk mengingat dan memanfaatkan betul-betul waktu yang ada. Karena itulah yang paling berharga yang kita miliki. Harga berlimpah kalau waktu tak cukup maka... habislah sudah... Sebuah film yang selian menegangkan, kita akan dihadirkan sistem visual games yang keren, serta banyak kata-kata yang filosofis, termasuk dalam hal yang berharga adalah waktu.

Dan terpikir pula olehku, mungkin benar bahwa di luar sana ada makhluk asing yang hidup selain kita dan maju dalam pengetahuan dan teknologi, tetapi atas pengetahuan dan teknologi kita yang masih "terbatas" jangan lantas enggan berbagi. Dan tentu saja kita maksimalkan terus upaya kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan waktu yang ada, baik bagi keluarga maupun warga sekitar, terlebih pada dunia yang semakin damai... Ya... walaupun selalu, kalau soal film bergenra beginian, seolah-olah tiada Tuhan selian pengetahuan. Tapi kita sebagai makhluk beriman ya harus percaya, bahwa Tuhanlah sumber segala pengetahuan itu.

Nggak nyesel deh nonton film yang satu ini. ^_^

Jumat, 10 Oktober 2014

Ada Cerita dalam Setiap Tanya: Review "Rindu" by Tere Liye



            Setiap perjalanan selalu disertai pertanyaan-pertanyaan. [Rindu, hlm. 222]


            PERJALANAN, sepertinya menjadi “takdir” mutlak setiap manusia di muka bumi ini, dari sejak adanya pendahulu kita sampai ke masa kini. Layaknya yang pernah terjadi di masa lalu, di suatu lembah, yang sebelah timurnya berbatasan dengan laut Merah serta dataran Tihamah dan Nejed, yang selalu dibanjiri cahaya matahari. Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menggendong buah hatinya, berhenti dari suatu perjalanan. Kemudian, muncullah pertanyaan-pertanyaan.
            Ketiga orang itu tentu saja pembaca ketahui, mengingat nama mereka tersohor hingga kini, siapa lagi kalau bukan Ibrahim, Hajar, dan bayinya yang diberi nama Ismail. Dari perjalanan mereka bertiga kemudian banyak muncul aneka peristiwa yang dikemudian hari menjadikan banyak manusia mengalami panggilan kerinduan untuk melaksanakan undangan perjalanan, ke suatu lembah yang berdiri di tengahnya suatu rumah yang penuh kerahmanan dan kerahiman, yang kita sebut dengan Ka’bah, Baitullah.
         Sedangkan undangan perjalanan tersebut dikenal dengan istilah haji. Sejak diserukannya untuk pertama kali, banyak manusia yang datang dari segenap penjuru yang jauh, baik berjalan kaki maupun menggunakan unta (re: sarana transportasi) [Q.S. 022: 27]. Di mana hal itu berlangsung hingga sekarang, bahkan saat Indonesia masih berjuluk Hindia Belanda, banyak umat Islam yang jua melakukan perjalanan penuh kerinduan itu.
            Di zaman itu, naik haji adalah perjalanan berbulan-bulan. Penuh perjuangan, penuh airmata keharuan, penuh airmata keinsyafan. Mengorbankan waktu, harta, bahkan dalam banyak kasus, juga nyawa. Jamaah yang berangkat membawa pertanyaan-pertanyaan masing-masing. Baik yang menyadari benar apa pertanyaannya atau hanya tersirat dalam doa-doa. [Rindu, hlm. 222]
            Begitulah, barangkali, pijakan yang kemudian menghasilkan suatu tulisan berupa novel yang bertutur tentang kisah beberapa anak manusia yang tengah menempuh perjalanan suci ke bumi Mekah. Suatu kisah, yang oleh Tere Liye selaku penulisnya dibubuhi judul “Rindu”.
            Syahdan, “Hari itu, 1 Desember 1938, sebuah perjalanan besar dimulai” [Rindu, hlm. 13], setelah sebuah kapal besar milik perusahaan logistik dan transportasi asal Belanda berlabuh di dermaga pelabuhan Makassar. Dan kapal itu bernama Blitar Holland. Pembaca mungkin sedikit banyak akan teringat pada Titanic ataupun Van der Wijck, hanya saja nasib Blitar Holland tidak seburuk keduanyanya itu, walaupun pada beberapa waktu dalam perjalanannya mengalami hari-hari yang berat. Sungguh pun karya manusia itu canggih, laut tidak pernah dapat diduga kekuatannya.
            Pada awalnya, Blitar Holland tidak diperuntukkan untuk alat transportasi pengangkut jemaah haji, sebagaimana umumnya perusahaan kapal Belanda, umumnya mereka mengangkut rempah-rempah, tetapi, melihat tiap tahun selalu meningkat peminat jemaah haji, dan hampir setiap tahun ada terus tak peduli musim dan depresi ekonomi apapun, para tamu-Nya, selalu ada. Maka Blitar Holland pun dialihfungsikan mengingat “lebih menguntungkan mengangkut manusia,” ujar kapten kapal, Philips.
            Cerita pun bergulir, hingga para jemaah haji dari Makassar hingga Banda Aceh akhirnya terangkut semuanya. Dan begitulah, pada waktu itu, kapal memulai mengangkut jemaah dari Indonesia bagian Timur, utamanya Makassar, di mana mereka yang dari Ternate harus lebih dulu sampai di dermaga sebelum Blitar Holland tiba. Diteruskan kemudian kapal menyusuri pelabuhan-pelabuhan di pesisir pantai utara Jawa, seperti Surabaya dan Batavia, dan dilanjutkan ke pantai bagian barat Sumatra sampai kemudian tiba di Serambi Mekah, Aceh Darussalam. Di setiap pemberhentian, senantiasa menorehkan kisah tersendiri, baik itu sekadar berupa informasi ataupun intrik dari para penumpang maupun para kelasi.
            Hal itu tampak misalnya saat di pelabuhan Surabaya dan Batavia, di mana transportasi pada masa itu sudah terdapat yang namanya trem, dan hal itu sangat membantu pada masa itu. Tetapi, jika melihat setting tahun cerita “Rindu” ini berlangsung memang tidak lepas dari yang namanya huru-hara, perjuangan dan perlawanan pribumi yang militan terhadap penjajah Belanda, sampai-sampai seorang penumpang yang masih kanak-kanak harus terjebak dalam baku tembak, kalau saja kemudian tidak ada seorang kelasi yang bernama Ambo yang menolongnya, mungkin gadis bernama Anna itu sudah tercerai dari dunianya yang senantiasa ia isi dengan kecerian dan kepolosan itu.
            Tentu saja tidak hanya saat di pelabuhan, saat di kapal pun beberapa penumpang kerap bersitegang dengan petugas keamanan Belanda, untung saja tidak semua orang Belanda itu serigala. Hal itu memang tidak lepas dari adanya para penumpang yang memang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, sehingga laik disebut cerdik pandai, yang dikhawatirkan oleh pihak Belanda akan melakukan makar terhadap eksistensi Hindia Belanda.
            Dan, sebagaimana umumnya suatu cerita, memang berkelindan pada beberapa nama, begitu pula dalam “Rindu”-nya Tere Liye ini, dan nama-nama tokoh itu antara lain Daeng Andipati, Gurutta Ahmad Karaeng, Bonda Upe, dan Ambo Uleng, yang menjadi pusaran lautan ceritanya. Menjadikan kisah dalam suatu cerita  berpilin dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan itu sendiri.
            Hatta, kita akan menemukan seseorang yang harus berhadapan dengan “takdir” masa lalunya yang
penuh dengan kenistaan dan rasa takut yang menghantui soal aib yang mungkin tersingkap, ibarat bangke, tentu aromanya akan tercium jua. Lalu bagaimana menghadapi masa-masa sulit begitu jika memang harus tiba? Dan tentang seseorang yang selalu dianggap sebagai manusia yang berbahagia ternyata di dalam hatinya penuh dengan onak duri kebencian yang menjadikan batinnya tidak bahagia, di mana hal itu semakin perih karena “dia” yang dibenci itu adalah ayahnya sendiri. Lantas ada juga soal pemuda yang harus lari dari kenyataan bahwa kisah cintanya harus kandas karena kekasihnya akan dijodohkan, sehingga dia lari dari kenyataan, padahal, yang namanya dunia asmara, perkara patah hati adalah sangat mungkin terjadi, dan apakah dengan penerimaan semua akan berubah lebih baik? Tidak hanya itu, kita pun akan menjumpai seseorang yang selalu menghadirkan jawaban-jawaban alternatif atau kebuntuan suatu pertanyaan ternyata tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, seseorang yang kadang peragu, seseorang yang ada dalam ambang kemunafikan dalam perjuangan.
Ah! Kesemuanya itu rasanya kita sekalian sedikit banyak merasakan betul pergulatan batinnya tersebut. Di mana seluruhnya pada akhirnya berujung pada pertanyaan-pertanyaan soal cinta sejati, kebahagian sejati, kedamaian sejati, serta perjuangan hakiki, namun kesemuanya itu tentu saja tidak lepas dari suatu cerita yang melatarbelakanginya. Di mana kerap kali yang masa lalu senantiasa menjadi benalu yang masa kini. Dalam hal ini, pencarian solusi menjadi penting, dan lebih penting dari itu adalah bertanya pada orang yang tepat dan mengerti, terlebih dapat dipercaya. Sebab bagaimana pun, selalu ada yang rahasia dari setiap persoalan kehidupan kita masing-masing, yang kemudian saling memperkaya khazanah masing-masingnya.
            Tetapi, tidak setiap pertanyaan punya jawaban yang pasti. Beberapa justru hanya butuh penerimaan saja. Dan di tengah aneka konflik yang pahit itu, pembaca diberikan “selingan kehidupan” para jamaah cilik, tentang bagaimana mereka bersikap atas segala aneka sikap orang dewasa, dan tentang kesehariannya bersekolah di atas kapal, sempat ada kegiatan belajar di ruang kantin kapal, mengingatkan saya pada mata kuliah manajemen jasa makanan dan gizi. Banyak hal yang akan mengundang bius senyum pembaca, terlebih karena ada pula pasangan pasutri yang sudah sepuh, yang memberikan gambaran bagaimana itu yang namanya keluarga yang bahagia. Dan dalam hal penyajian fragmen anak-anak rasanya Tere Liye tidak diragukan lagi memang piawai dalam hal itu.
            Apakah rindu mereka itu kemudian berujung temu? Ini memang lebih rumit dari sekadar kangen semata. Karena sebagaimana perjalanan, sekalipun itu di jalan tol, kerap kali ada kemacetan, bahkan kecelakaan lalu lintas. Maka, jangan dikira bahwa perjalanan kapal Blitar Holland itu lancar-lancar saja, sebagaimana diungkap di muka, hari-hari buruk pun sempat menghantui. Mulai dari kerusakan mesin, adanya penumpang yang meninggal dunia yang harus dimakamkan dengan jalan ditenggelamkan ke laut yang membuat banyak kesedihan menggantung di kabin-kabin kapal, sampai terjadinya “penjagalan” kapal yang kemudian dapat dibalikkan keadaannya, ini termasuk bagian yang paling heroik yang menarik menurut saya. Soal akhir, sebagaimana umumnya niat baik, Insya Allah selalu berakhir dengan kebahagiaan.
            Hadirnya “Rindu” ini memang sangat relevan dengan serangkaian ritus yang kita lalui, yakni perayaan iduladha, di mana, di bulan ini, prosesi haji dilaksanakan. Tetapi tentu saja kita akan bertanya-tanya mengapa kemudian penulis mengambil setting justru pada tahun sebelum kemerdekaan, dan bukan pada masa yang sudah canggih seperti sekarang ini, di mana para jemaah haji sampai-sampai bisa—atau bisa-bisanya!—selfie dengan hajar aswad? Saya tidak dapat menduga-duga modus sebenarnya dari keberadaan suatu karya, tetapi dari dialog salah satu tokoh, sepertinya penulis menyisipkan sesuatu, bahwa melalui tulisan kita dapat menyebarkan suatu pemahaman. Kepahaman macam apa yang kemudian hendak disampaikan? Tentu saja setiap pembaca dapat mengambil poin yang berbeda tergantung kacamata bacanya masing-masing, tetapi menurut hemat saya ini adalah sebagai bentuk pengingat pada kita sekalian tentang pentingnya masuk ke dalam proses “perjalanan” secara total. Dan semacam kritik, yang bertanya secara tidak langsung, apakah kemudian yang menempuh haji pada masa kini itu karena kesungguhan atau sekadar wisata (rohani)?
            Pertanyaan itu tentu saja hanya bisa dijawab oleh pribadi masing-masing. Tetapi dalam kesempatan ini saya memang harus jujur, karena tamu-tamu Allah dalam cerita “Rindu” ini—khususnya yang mendapat fokus—memang orang-orang yang keren!, dalam artian memang orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ketaatan, di samping mereka memiliki sisi kelamnya tersendiri. Hal itu terlihat pula dari penunjuk waktu yang selalu mengambil bentuk waktu-waktu salat, saya kira ini ada untungnya juga bagi pembaca, mengapa? Sebab jikalau saat membaca bertepatan dengan waktu salat maka seyogyanya ditunda terlebih dahulu untuk kemudian salat karena banyak bagian dari “Rindu” ini ialah memenuhi kerinduan panggilan-Nya, bukankah azan adalah panggilan-Nya jua?
            Akan tetapi, sebagaimana peribahasa tidak ada gading yang tak retak, “Rindu” ini pun begitu adanya. Di beberapa bagian saya masih menjumpai adanya kesalahan pengetikkan nama tempat maupun nama tokoh, termasuk perihal tahun, seharusnya 1938 malah 2013. Dan adanya huruf ganda pada suatu lema, termasuk masih kurang konsistennya dalam menggunakan kata baku berdasarkan KBBI, utamanya pula terkait kata-kata istilah keislaman yang sebenarnya sudah ada bentuk serapannya yang baku. Pun adanya kata yang tidak dispasikan. Ini memang hal-hal teknis, tetapi tidak banyak dan tidak terlalu mengganggu. Dan pada hlm. 501, saya temukan baris yang cukup “metaforis”, kantin tertawa sejenak. Juga dijumpai beberapa baris syair yang melipur. Selebihnya, gaya tutur dari seorang Tere Liye tetap menjadi suatu khas.
            Akhirul kata, novel yang diterbitkan oleh Republika Penerbit ini, sudah dapat pembaca peroleh di toko-toko buku terdekat, dengan tebal 544 halaman dengan ISBN 978-602-8997-90-7, Cetakan Pertama, Oktober 2014, dengan ukuran huruf yang tidak kecil tidak besar, enak dibaca. Walaupun agak disayangkan, karena adanya halaman kosong di tiap bab baru (walaupun tidak semua), yang seharusnya bisa diefisienkan, dengan sistem bulak-balik saja. Pada akhirnya memang, menjadi suatu kado tersendiri bagi umat Islam yang baru saja merayakan kurban. Semoga dengan membaca “Rindu” ini, kita dapat lebih menyadari aneka pertanyaan kita masing-masing dalam hidup ini, dan barangkali dari pertanyaan-pertanyaan serta jawaban-jawaban alternatif dalam “Rindu” tersebut, sedikit banyak dapat menjadi bahan berpikir dan mengukir. Demikian ulasan saya, kurang lebihnya mohon maaf. []

Rabu, 19 Maret 2014

Review: Dying To Be Me by Anita Moorjani

"Nyonya, kalau membaca catatan medis itu, mestinya Anda sudah mati!" (h. 170)

Begitulah ungkap Dr. Ko pascamembaca dokumen dari pasien bernama Anita Moorjani. Penderita kanker stadium 4B, yang sempat mati suri selama kurang lebih 30 jam-an, di mana setelah koma ia perlahan sadar, lebih menakjubkannya lagi, lambat laun kondisi kesehatannya membaik, padahal ia melakukan hal yang justru membahayakan; semisal tidak mau menggunakan alat bantu kesehatan dan obat-obatan kimia. Tetapi akhirnya, seberapa besar pun ia berusaha meyakinkan keluarga dan dokter bahwa kondisinya akan membaik dan memang jauh lebih baik dirasanya, pihak rumah sakit tetap menyarankan agar Anita Moorjani melakukan kemoterapi untuk memastikan bahwa kanker di tubuhnya memang sembuh total. Terlebih tentu, hal itu untuk memuaskan rasa penasaran para dokter atas fenomena yang jarang terjadi pada suatu kasus kanker, di mana pasien yang banyak fungsi organ tubuhnya sudah tidak baik berangsur membaik setelah cukup lama mengalami koma. Itu langkah dan kisah Anita Moorjani menjadi satu di antara banyak kisah mati suri atau near-death experience (NDE) tersendiri.

Anita Moorjani menulis memoirnya sendiri, ia merasakan dorongan bahwa ia harus menuliskan kisah mati surinya tersebut, banyak penerbit yang awalnya menolak kisahnya itu, hingga pada suatu masa ada yang mau menerbitkannya dan Anita Moorjani dipertemukan pula dengan seorang bernama Dr. Wayne W. Dyer yang memang sebelumnya sempat membaca suatu artikel tentang kisah Anita Moorjani sebelum ia menuliskannya dalam bentuk buku seperti foto di atas, dengan sub judul "Aku Mati Suri maka Kutemukan Diri Sejati" tidak selalu kemudian ia katakan suatu kewajiban, bahwa prasyarat menemukan diri sejati adalah dengan mengalami mati suri. Ini adalah suatu kisah yang berisikan pengalaman, dan seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik.

Anita Moorjani adalah seorang perempuan yang berkarir, lahir di Singapura dari keturunan India, keluarganya penganut Hindu yang taat tetapi toleran terhadap keyakinan lainnya, dan pada usia dua tahun pindah ke Hong Kong hingga sekarang. Anita Moorjani sebagai warga pendatang mengalami masa kecil yang berwarna, mulai dari aneka bahasa, budaya, maupun agama. Diceritakan olehnya, "Berbeda dari tradisi agama Hindu yang kupelajari di rumah, pendidikan formalku malah kudapatkan dari sekolah Katolik yang dikelola para suster." (h. 44). Anita Moorjani yang kala itu masih kecil, tidak jarang mendapatkan perlakukan yang tidak mengenakan dari teman-temannya yang Katolik, hingga singkat cerita Anita Moorjani pada suatu ketika selepas pulang sekolah bercerita kepada Ibunya, "Mama, teman-teman dan Suster Mary mengatakan, kalau aku mau masuk surga aku harus ke gereja setiap Minggu dan mempelajari Alkitab." (h. 46), sang Ibu pun pada akhirnya memberikan pengertian kepada sang anak, katanya, "... Agama itu hanyalah jalan untuk menggapai kebenaran. Dia hanyalah jalan. Dan semua punya jalannya sendiri-sendiri." Namun pada dasarnya sebagaimana umumnya orang tua, selalu mengharapkan anaknya seagama dengan mereka. Begitu pun yang terjadi pada Anita Moorjani, hingga akhirnya ia pindah sekolah ke sekolah Inggris yang ada di Hong Kong, di sekolahnya yang baru ini memang cukup sekular, dalam artian tidak begitu mempermasalahkan agama, tetapi tidak sedikit murid-muridnya masih bersikap rasis, dalam hal ini Anita Moorjani memang berkulit legam dan rambutnya ikal beda sekali dengan orang-orang Eropa. Anita Moorjani pun akhirnya sempat berpikir untuk berhenti kursus keagamaan yang dianjurkan orang tuanya, ia ingin bebas, dan memang dalam hatinya sendiri kadang timbul tanya, apakah dirinya benar-benar ingin menjadi orang Hindu? Ya, masa kecil dan remajanya memang diliputi dengan nuansa lingkungan yang berpeda-beda, tetapi hal itu tetap menyenangkan bagi Anita Moorjani, hanya saja kadang ia berpikir mengapa yang lain tidak bisa setoleran dirinya.

Memoir ini juga mengisahkan tentang percintaannya, juga perjalanna karirnya, hingga pada April 2002 dia didiagnosa mengidap kanker, beberapa tahun ia berusaha untuk berobat, mulai dari pengobatan Barat maupun Timur, ia lakukan. Ada yang gagal, ada pula yang berhasil, tetapi hampir semuanya bersifat temporer. Sampai pada akhirnya ia mengalami pengalaman mati suri yang memukau pada dini hari 2 Februari 2006, dan pada petang 3 Februari 2006, Anita Moorjani sadarkan diri... sampai kemudian sembuh total dari kankernya dari hari ke hari...

Bukunya tidak sebatas berisi latar belakang dia, tetapi juga usaha keras dia dan suami serta keluarga dalam mencapai kesembuhan. Dan tentu saja, yang menarik adalah apa yang dia ungkapkan saat mengalami mati suri itu... Di mana, karena hal itu kemudian banyak terjadi perubahan pada dirinya, selain kesembuhan yang diperolehnya, aspek spiritualitas Anita Moorjani lebih meningkat dari sebelumnya, dalam hal ini tidak spesifik kepada agama tertentu karena lebih pada nilai keuniversalan. Ia semacam mendapatkan dorongan untuk "mendakwahkan" apa yang dialaminya itu, tentang cinta kasih--suatu hal yang juga pada dasarnya diseru oleh sekalian agama yang ada di bumi ini. Tetapi dalam banyak kesempatan untuk berbagi pengalaman di ruang publik ia selalu mengatakan bahwa apa yang dibawanya bukanlah agama baru, dan ia bukanlah nabi atau seseorang yang mendapatkan wahyu. Sebab tentu saja, sebagaimana juga saya, saat melihat sampul buku ini terbetik pikiran: "Apakah perlu mati suri dulu untuk menemukan diri sejati?"  \^O^/

Memoir Anita Moorjani adalah sepercik air penyegaran, agar kita kembali tersadar kepada esensi hidup dan kehidupan. Di mana, sehat tidak sekadar fisik yang terhindar dari makanan atau pun zat berbahaya, tetapi juga aspek psikologis harus sehat--tidak pendendam, gelisah, penakut, dan hal negatif lainnya. Istilah kasarnya, banyak dari kita memang hidup malah nyari penyakit, bukannya penyakit mencari kita. Dan dengan memoirnya ini, Anita Moorjani sedikit memberikan perspektif pandangan hidup, namun ini bukanlah saran medis. Pada bagian bab 18 ada bagian Pertanyaan dan Jawaban, di sini banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkil muncul saat membaca memoir tersebut dan Anita Moorjani menjawabnya dengan singkat, padat mengena. Namun, buku ini bukanlah panduan untuk sembuh dari kanker, tetapi memotivasi untuk sembuh adalah mungkin. Karena menjadi diri sendiri adalah kunci menemukan kekuatan terhebat yang memang ada dalam diri kita. Apakah power itu? Dalam buku tersebut Anita Moorjani menjelaskannya dengan terang... dan itu tidak lepas dari perihal be yourself!

Pada akhirnya orang yang mati suri tidaklah satu dua, dan setiapnya pasti memberikan pengalaman berbeda. Termasuk juga kisah yang dijabarkan oleh Anita Moorjani, bahasanya sederhana... lembut... dan mudah dicerna... Salut dengan tim penerjemahnya dalam memilih padanan katanya. Pun dari pihak Penerbit Serambinya, buku yang dicetak pertama pada Oktober 2013 dengan tebal 336 ini disajikan dengan apik, jadi enak dan nyaman dibacanya. (^-^)!