Proud of

Proud of
Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

MyTelkomsel, Mempermudah Diri Jadi Lebih Berarti

"Aku merasa telanjang tanpa ponselku!" Itulah ucapan Jarod Kintz yang menggambarkan betapa pentingnya kini yang namanya ponsel bagi seseorang, termasuk bagiku. Begitupun bagi kamu, kan? Ya! Ponsel memberikan kita banyak kemudahan, selain meniadakan jarak dan tempat maupun waktu bagi suatu komunikasi, juga memudahkan kita mendapatkan informasi. Sebab kini, ponsel tidak sekadar alat untuk menelepon atau mengirimkan pesan singkat saja, tetapi bisa pula untuk keperluan bisnis, maupun menulis di blog. Bahkan ada perangkat ponsel yang tidak memiliki fungsi telepon seperti Ipad ataupun Tablet lainnya.
 
Dengan pesatnya perkembangan teknologi tersebut, ponsel kini lebih mengedepankan hadirnya aneka aplikasi yang memudahkan penggunanya, dan hal itu tidak hanya dilakukan oleh pihak pembuat ponsel, tetapi juga oleh operator telekomunikasi, misalnya seperti yang dilakukan oleh Telkomsel, yang meluncurkan aplikasi yang dapat mempermudah para pelanggannya dengan nama, "MyTelkomsel".

Bagiku, kehadiran MyTelkomsel yang dapat diunduh melalui Google Play, BlackBerry World, Windows Phone, maupun App Store, memang sangat memberikan kemudahan dalam hal informasi maupun melakukan transaksi yang terkait dengan penyedia jasa telekomunikasinya, yakni Telkomsel. Hal ini pun menurutku membantu melawan lupa, mengapa? Karena tidak jarang kadang kita lupa kode-kode untuk melakukan suatu permintaan transaksi tertentu. Tetapi dengan MyTelkomsel, aku (dan kita semua) akan terbantu, karena kita tidak perlu mengingat kode-kode tertentu, semuanya tinggal klik atau sentuh saja, maka permintaan kita akan diproses dengan cepat.

Seperti yang tampak pada screenshot yang kuambil dari Iphoneku, MyTelkomsel jelas sekali memberikan kemudahan  bagi para pelanggannya, mulai dari isi ulang pulsa, beli paket internet, cek pulsa, bayar tagihan kartu halo, rekomendasi paket data, dan info aplikasi menarik lainnya. Kita pun dapat menjadi pribadi yang lebih berarti karena dengan MyTelkomsel kita dapat berbagi, mulai dari berbagi pulsa sampai dengan berbagi kuota untuk orang-orang yang kita kasihi.

Dan tentunya kita nggak perlu lagi yang namanya inget-inget kode-kode bintang pagar dan lainnya. Semuanya tinggal klik dan sentuh aja istilahnya, selesai deh. Mudah banget pokoknya!


So, bagi mereka yang memang ponselnya nggak memiliki fungsi telepon, atau yang layar sentuh, hukumnya wajib untuk unduh MyTelkomsel, terkhusus mereka yang menjadi pelanggan setia Telkomsel, seperti aku. Karena hanya Telkomsel yang sinyalnya kuat dan di mana-mana. Masih mikir? Duh nggak perlu bingung, segera unduh aplikasi MyTelkomsel-nya, dan sempatkan waktu beberapa menit saja untuk menonton dan mendengar tutorial MyTelkomsel melalui youtube berikut ini: 
Dijamin, setelah selesai nonton video tutorialnya kamu-kamu semuanya juga pasti merasakan kemudahan seperti yang aku rasakan, sehingga nggak perlu mikir dua kali lagi untuk mengunduh aplikasi MyTelkomsel, sebab dengannya aku dapat memastikan diriku tetap dapat terhubung dengan siapa pun, termasuk dapat membuat diriku lebih berarti dengan adanya menu berbagi, baik pulsa maupun kuota internet, dan semua layanan tersedia di dalamnya. Terima kasih Telkomsel, sudah memberikan kemudahan layanan kepadaku selaku pelangganmu.

Minggu, 09 Februari 2014

Kampung Fiksi Tak Sekadar Khayali



http://www.kampungfiksi.com/
Menulis, satu bentuk aktivitas yang banyak manfaatnya. Dan tak dapat disangkal lagi bahwa cara agar dapat menulis itu cuma satu, yakni dengan dipraktikin. Karena itu pulalah kemudian hadir yang namanya Kampung Fiksi, suatu wadah komunitas di mana di dalamnya berkumpul, mereka yang memang menyukai fiksi, yang dikenal juga dengan istilah fictionholic. Kata “kampung” mengisyaratkan pada kecenderungan pada suatu tempat tinggal yang dirindukan, di mana kalau kita pergi dari sana, cepat atau lambat pasti ingin kembali lagi. Karena apa? Karena ada yang kita cintai. Dan, dalam hal ini, menulis fiksi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hati para fictionholic. Tidak hanya itu, kata “kampung” menggambarkan suasana keakraban, bukankah di kampung itu kebersamaan umumnya lebih kerasa? Ya, dan kebersamaan memang menjadi satu pilar yang dipegang teguh oleh para adminnya. Ini juga sejalan dengan satu pendapat dari salah satu sastrawan kita, Remy Sylado, bahwa menulis adalah belajar. Hatta, belajar bersama menjadikan menulis lebih mengasyikkan tentunya! Dan yang namanya seorang pembelajar (suka belajar) sudah seharusnya suka menulis. Tapi, memang susah-susah gampang, dan perlu proses untuk dapat menulis fiksi yang tidak sekadar memiliki arti (bermakna) namun juga enak dibaca. Dan kita dapat memulai di Kampung Fiksi, sebagai pengembangan dari niat untuk dapat menulis fiksi. Ada banyak kegiatan yang digelar oleh para admin Kampung Fiksi—untuk para “warga”-nya yang aktif atau sekadar untuk para pembaca-nya.

Dan hal itu tentu saja, tidak sebatas dalam bentuk aneka kegiatan yang menggairahkan para fictionholic untuk terus semangat, dan terpicu untuk menulis dengan praktik menulis, tapi juga dibarengi dengan berbagi pengetahuan dasar kepenulisan, yang mana, pada akhirnya hal itu tetap perlu juga untuk kita diketahui, sebagai suplemen yang menyehatkan. Apa saja kegiatan yang ada di Kampung Fiksi—ini mengingatkan kita kalau ke kampung wisata, ya?—jawabnya, banyak! Yang jelas, semuanya nggak lepas dari semangat menulis fiksi. Ada Remake/Rewrite, Book Traveling Campaign, Grup Book Traveling Campaign, Grup J50K: 31 Hari, 50.000 Kata, workshop, aneka lomba, dan lainnya. Nggak hanya itu, KampungFiksi juga banyak menyediakan jasa layanan bagi penulis maupun perihal kepenulisan fiksi, semisal Copy Editing, Developmental Editing dan/atau Substantive Editing, kelas online menulis fiksi, sampai ke masalah ngurus ISBN.

Walaupun dalam basis online, kebersamaan selalu diutamakan, itu terlihat juga dari kekompakkan dari para admin pengelola Kampung Fiksi, yang memang pada aktualnya juga kerap melakukan pertemuan (baca: kopdar) untuk terus memajukan Kampung Fiksi, dan karena usaha keras mereka, pada tanggal 4 Februari 2014, Kampung Fiksi pun tayang di Koran Sindo. Hal itu juga memang sesuai dengan kecenderungan di mana jarak dapat diminimalisir dengan akses internet dengan aneka aplikasi jejaring sosialnya. So, Nggak ada batasan usia, terbuka bagi kalangan laki-laki maupun perempuan, di Kampung Fiksi, kita akan wisata kreatif dengan menulis fiksi! Sebagaimana tagline-nya DO the WRITE things, WRITE away! Jelas akan mengasyikkan, khususnya bagi mereka yang memang bercita-cita jadi "penulis keren". Memang sudah saatnya menulis tidak hanya mengubah yang akan membaca, tetapi juga penulisnya (baca: mendapatkan profit—untuk hal ini sifatnya relatif). Tunggu apa lagi, kita bisa mulai praktik dan belajar menulis di Kampung Fiksi! Yang mana adanya tak sekadar khayali. :)

"Ikut memeriahkan ultah Kampung Fiksi yang ke-3 bersama Smartfren, Mizan, Bentang Pustaka, Stiletto Book dan Loveable."

Jumat, 24 Januari 2014

Surat untuk Stiletto Book

Header di website stilettobook.com


Saat aku menulis surat ini, di luar hujan masih saja turun. Maka bertambah jadilah kerinduanku ini. Dan hujan selalu menyembulkan rasa rindu. Rasanya sudah lama juga aku tak menulis surat, sepertinya ini waktu yang tepat aku menulis surat untukmu Stiletto Book, yang juga dapat terbaca oleh pengunjung blogku ini. O ya, ada pepatah—yang sepertinya sudah lumrah—tak kenal maka tak sayang. Dan sejarah selalu punya ceritanya sendiri. Untuk itu aku ingin berbagi kisah awal mula mengenalmu di dunia maya ini.

 .
Jujur, aku memang belum mengenal Stiletto Book sebelumnya. Tetapi Sedikit aku ingin bercerita awal mula hingga sekarang aku jadi tahu bahwa ada penerbit yang bernama Stiletto Book itu. Perjumpaan maya tersebut terjadi pertama kali kala aku mengikuti satu ajang Giveaway yang mana hadiah bukunya dan review buku yang harus ditanggapi itu terbitan dari Stiletto Book yang judulnya Don’t Worry to be a Mommy!

 .
Lalu aku coba mengunjungi halaman mayanya, yang beralamat di www.stilettobook.com, kesan pertama yang jelas Stiletto Book itu erat sekali kaitannya dengan makhluk bernama perempuan. Kemudian apakah aku merasa salah tempat karena aku seorang laki-laki? Tidak juga, malah ini bagus karena memang sudah saatnya buku tidak dimonopoli tema maupun penulisnya di seputaran lelaki saja. Eits, ternyata penulisnya juga ada yang pria lho. Ini artinya, aku juga bisa ngirim naskah bertemakan seputar perempuan kan, Stiletto Book? Hehehe


.
Lanjut; Aku mencoba membuka-buka katalog bukunya, dan ada tiga buku yang ingin aku baca dan miliki. Seperti, Anakku Sehat Tanpa Dokter karyanya Sugi Hartati, S.Psi, apa yang bikin aku tertarik? Dari judulnya saja sudah jelas melawan arus dalam artian, awam memandang bahwa kalau sakit ya ke dokter. Buku ini berusaha ingin menjadikan setiap ibu “dokter pertama dan pribadi” bagi anak-anaknya agar tetap sehat dan terhindar dari aneka penyakit, jika pun kemudian sakit ada pengetahuan beberapa jenis penyakit serta kiat mengatasinya. Selain itu, buku ini dapat memberikan referensi bagi aku yang memang tengah menggeluti ilmu gizi, di mana memang kunci sehat kita bukan ada pada dokter (bisa dibaca: obat) tetapi pada apa yang kita perlakukan pada diri kita, seperti dalam disiplin aku ya asupan gizinya.

 .
Buku kedua karyanya DR. Sri Damayanty Manullang yang judulnya Everything Is Alright—Sekuntum Mawar untuk Negeri, buku berkategori biografi dan memoir ini menarik hatiku, karena di dalamnya berkisahkan tentang perjuangan, dan kisahnya tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Paris, Perancis. Ada banyak elemen pula, mulai dari kehidupan, percintaan, pendidikan, dan juga dunia politik yang dicobanya namun gagal. Tentu banyak berita yang menyatakan bahwa banyak caleg yang sakit jiwa karena nggak lolos ke Senayan, ternyata yang bersangkutan masih tetap semangat hidup dan menghasilkan buku ini. Tentu menarik mengetahui bagaimana ia mencoba melewatinya. Di mana dikatakan juga sempat gagal menikah dengan tunangannya. Ini kisah perempuan yang kompleks. Jadi, aku ingin membacanya.

 .
Adapun buku ketiganya itu berjudul  Girl Talk—sehimpun cerpen karyanya Lala Purwono. Ini buku kepingin aku baca tuh karena ingin tahu seputar apa yang dibicarakan, tema-tema apa saja, dan utamanya karena sudut pandangnya jelas perempuan. Dan namanya saja kumpulan cerita pendek, jadi di dalamnya pasti ada lebih dari satu cerita. Itu tentu memperkaya khazanah, dan ini ditulis oleh satu penulis, jadi bukan antologi cerpen gitu. Moga-moga bisa jadi semacam belajar juga cara membuat cerpen dari cerpennya Lala Purwono ini. 

 .
Well, pada akhirnya nggak nyesel juga sih bisa kenal dan mampir sampai sempat nulis surat ini. Rasanya memang sudah saatnya perempuan seksi tidak hanya dari tampilan fisiknya tetapi juga inteleknya. Dan nutrisi terbaik bagi otak, pikiran, dan wawasan, adalah pengetahuan, dan buku menjadi yang terampuh dalam hal ini. Kiranya, semoga Stilleto Book semakin banyak melahirkan penulis perempuan dengan tematik yang lebih luas, karena apa pun tak lepas dari perempuan. Dan bilakah kemudian aku dapat memiliki ketiga buku yang kusebutkan di atas itu, mungkin aku akan lebih mengenal lebih dalam lagi penerbit yang satu ini. Bukan begitu, Stilleto Book?

.
Salam,
Taufiq Firdaus A A
taufiqfirdausalghifariatmadja@gmail.com